Iklan

Iklan

Iklan

Iklan

Imbal Jasa Lingkungan Untuk Konservasi Sumberdaya Air Bentang Alam Mbeliling

Jumat, 08 Oktober 2021 | Oktober 08, 2021 WIB Last Updated 2022-02-22T13:24:03Z

Peserta Focus Grup Discussion (FGD) di Aula Hotel Puri Sari Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.

FLORESNEWS.NET | LABUAN BAJO | Bentang Alam Mbeliling merupakan kawasan penting untuk mendukung penghidupan masyarakat, baik yang tinggal di dalamnya maupun masyarakat di kota Labuan Bajo.

Burung Indonesia belum lama ini melaporkan, bahwa kawasan Bentang Alam Mbeliling mengalami tekanan yang cukup signifikan sebagai akibat pertambahan jumlah penduduk, pemukiman baru serta pembangunan infrastruktur.  Dalam kurun waktu 1 dekade terakhir, ada penambahan luasan pemukiman sebanyak 400 hektar dan luasan tanah terbuka sebanyak 285,89 hektar.

Bersamaan dengan itu, ada sekurangnya puluhan unit Depot air minum isi ulang beroperasi di Labuan Bajo yang memanfaatkan air dari kawasan Bentang Alam Mbeliling sebagai air baku usahanya.  Usaha pengolahan air minum isi ulang ini dilakukan dengan mengolah kembali air yang disuplay melalui Perumda Wae Mbeliling maupun pengambilan langsung dari Desa Liang Ndara dan Desa Tondong Belang yang menopang kawasan Bentang Alam Mbeliling. 

Tentu saja Depot air minum isi ulang akan beroperasi secara berkesinambungan jika pasokan air baku tidak mengalami masalah.
Pengalaman menunjukkan, untuk kondisi kota Labuan Bajo, air yang dipasok dari Perumda Wae Mbeliling sering mengalami kendala, terutama pada musim kemarau. Upaya untuk mempertahankan produksi air adalah dengan menggunakan mobil tanki mengakses air baku dari Perumda Wae Mbeliling atau mengambil dari desa-desa di kawasan itu.

Sebagai kawasan penting bagi daerah tangkapan air, Bentang Alam Mbeliling seharusnya menjadi daerah prioritas untuk diperhatikan secara bersama. Termasuk para pemilik usaha depo air isi ulang dan Perumda Wae Mbeliling. Usaha yang berbasis air akan tetap berkesinambungan jika pasokan air baku tidak mengalami hambatan.

Kerisauan ini menggelinding  belum lama ini dalam Focus Grup Discussion (FGD) bertajuk "Pengembangan Skema Pendanaan Berkelanjutan Dalam Rangka Konservasi Sumberdaya Air di Bentang Alam Mbeliling.   Kegiatan yang diinisiasi Burung Indonesia  ini berlangsung di Aula Hotel Puri Sari Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.

Para Direktur, perwakilan Direktur Perusahaan Depo Air Minum Isi Ulang yang beroperasi di Kota Labuan Bajo  termasuk Direktur Perumda Wae Mbeliling, pimpinan dan Staf Burung Indonesia Program Flores hadir dalam forum tersebut.

Tujuan forum ini  dihelat untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang jasa lingkungan, imbal jasa lingkungan serta membangun kesepakatan bersama untuk pembentukan kelembagaan penggalangan dana konservasi air di kawasan Bentang Alam Mbeliling.

Pengelolaan sumberdaya air berkelanjutan

Air  merupakan salah satu sumberdaya alam yang vital bagi kehidupan flora, fauna dan manusia untuk kebutuhan sehari-hari dalam berbagai sektor kehidupan. Sebagai sumberdaya alam, air perlu dikelola secara berkelanjutan untuk memastikan kecukupan pasokan air bagi kebutuhan saat ini dan kebutuhan generasi yang akan datang. Jika  tidak dikelola secara berkelanjutan, bukan tidak mungkin pada suatu saat tidak semua orang memiliki akses yang sama terhadap air karena air termasuk sumberdaya yang tidak tak terbatas.

Pengelolaan sumberdaya air berkelanjutan adalah upaya merencanakan, melaksanakan, memantau, dan mengevaluasi penyelenggaraan konservasi sumberdaya air dan pengendalian daya rusak air.  Undang-Undang tentang sumberdaya air sangat jelas menyebut konservasi sumberdaya air adalah upaya memelihara keberadaan serta keberlanjutan keadaan, sifat, dan fungsi sumber daya air agar senantiasa tersedia dalam kuantitas dan kualitas yang memadai untuk memenuhi kebutuhan makhluk hidup pada waktu sekarang maupun yang akan datang. Untuk itulah, salah satu komponen utama dalam pengelolaan sumberdaya air adalah pengelolaan daerah tangkapan air. 


Pengelolaan daerah tangkapan air & tata guna lahan

Daerah tangkapan air merupakan  kesatuan  ekosistem  yang  utuh  dari  hulu  sampai  hilir. Daerah tangkapan air  terdiri  atas unsur-unsur  utama  sumber  daya  alam,  yaitu  tanah, vegetasi  (hutan),  air,  dan sumber  daya  manusia  sebagai  pemanfaat  sumber daya  alam . Ini didasari dengan pemahaman tentang siklus hidrologi. Bahwa air berasal dari uap air yang terus berproses menjadi hujan yang jatuh ke bumi dan terserap ke dalam tanah. Kemudian muncul sebagai mata air, rawa, danau, dan sungai. Dalam hal inilah konservasi sumberdaya air sangat tergantung pada tata guna lahan di daerah tangkapan air.

Dengan pengertian ini, maka kondisi jasa lingkungan (air) sangat tergantung pada kondisi dan praktek penggunaan lahan di daerah hulu. Keputusan tentang jenis penggunaan lahan tentu sangat tergantung pada pemilik lahan berdasarkan pertimbangan dan kebutuhan pemiliknya meskipun secara makro mengikuti ketentuan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Keputusan tersebut bisa saja sejalan dengan misi pelestarian jasa lingkungan air tetapi bisa juga terjadi sebaliknya.

Untuk menjembatani hal ini, pemerintah telah memperkenalkan konsep pengelolaan  Daerah Aliran Sungai (DAS) terpadu. Agar konsep ini berjalan,  semua pemangku kepentingan  dilibatkan. Segala kepentingan dan aspirasinya didialogkan untuk menentukan solusi bersama.  Kepentingan masyarakat hulu dan hilir harus dipertemukan sehingga tidak ada yang dirugikan. Dengan demikian pengelolaan Daerah Tangkapan Air (DTA) tidak lagi tergantung pada partisipasi dan kemauan masyarakat hulu saja tetapi juga berdasarkan partisipasi dan aspirasi masyarakat hilir.

"Bentang Alam Mbeliling merupakan  daerah tangkapan air yang penting bagi masyarakat di sekitar dan kota Labuan Bajo", ungkap Manager Burung Indonesia Flores Pogramme, Tiburtius Hani.

Burung Indonesia sebagai mentor konservasi  menyebut salah satu cara untuk merealisasikan gagasan ini adalah dengan menerapkan mekanisme pembayaran Imbal Jasa Lingkungan air.  Wujud perhatian dan kepedulian para pihak terhadap kawasan Bentang Alam Mbeliling diimplementasikan  dengan mengembalikan sebagian kecil keuntungan yang diperoleh ke daerah hulu melalui skema pembayaran Imbal Jasa Lingkungan (IJL). Pointnya, masyarakat di hilir membayar sejumlah uang untuk membiayai berbagai bentuk kegiatan konservasi. Terutama konservasi tanah dan air di daerah hulu serta kegiatan pemberdayaan masyarakat. Skema pendanaan berkelanjutan  penting dilakukan demi mengejawantahkan konservasi sumberdaya air di kawasan Bentang Alam Mbeliling.

Tiburt Hani lantas menguraikan,
dalam rangka pengembangan mekanisme ini diperlukan wadah penggalangan dana (trust fund) untuk menyiapkan pembiayaan berkelanjutan bagi kegiatan konservasi sumberdaya air, khususnya terkait pengelolaan lahan berkelanjutan oleh masyarakat hulu di DAS Nae. Wadah ini nantinya selain menghimpun dana dari para pemanfaat air dan donatur, juga berperan dalam merancang program konservasi untuk dilaksanakan oleh masyarakat di daerah hulu dengan dukungan pendanaan sesuai kesepakatan kedua belah pihak.

"Kontribusi para pengusaha depo air minum isi ulang akan dikumpulkan melalui wadah bersama untuk mendukung upaya-upaya konservasi air di hulu", ujar Tiburt Hani.


Respon positif

Direktur Perumda Wae Mbeliling, Aurelius Hubertus Endo mengapresiasi upaya Burung Indonesia menghimpun para Pengusaha Depot Air Minum Isi Ulang untuk berpikir tentang keberlanjutan sumberdaya air. Dikatakannya, FGD yang digagas Burung Indonesia sangat membantu upaya pengamanan air minum yang digalakan pemerintah sehingga menjamin 4 K (Kuantitas, Kualitas, Kontinuitas dan Keterjangkauan).

Rius Sarianto mengemukakan hal senada. Menurut dia, pelibatan  para pihak dalam upaya konservasi air akan menjamin pasokan air baku ke depot-depot air minum isi ulang di Kota Labuan Bajo.

"Pengalaman empiris para pengusaha selama ini adalah pasokan air baku yang selalu mengalami kendala yang berdampak pada produksi usaha", ungkapnya.

Kesepakatan FGD

Pertama, bahwa air baku yang digunakan untuk produksi air minum isi ulang di Kota Labuan Bajo dan sekitarnya bersumber dari kawasan Bentang Alam Mbeliling.

Kedua, peserta menyadari bahwa terus terjadi penurunan jumlah debit air di kawasan Bentang Alam Mbeliling akibat proses alamiah dan aktifitas masyarakat di daerah hulu yang berdampak pada terganggunya pasokan air bersih ke Kota Labuan Bajo dan usaha depo air minum isi ulang.

Ketiga, dalam rangka memastikan kelestarian jasa lingkungan air, maka pengelolaannya harus mengoptimalkan asas manfaat bagi kelompok masyarakat hulu dan para pengusaha air di hilir.

Keempat, peserta diskusi bersepakat untuk terlibat dalam upaya pengembangan pendanaan berkelanjutan dalam rangka mendukung upaya konservasi sumberdaya air di bentang alam Mbeliling.

Kelima, untuk merealisasikan upaya konservasi air tersebut, peserta diskusi sepakat untuk membentuk lembaga pendanaan konservasi air di Bentang Alam Mbeliling dengan nama Asosiasi Pengusaha Peduli Air Labuan Bajo
Keenam, kontribusi dana konservasi masing-masing pengusaha depo air di hulu  sebesar  Rp. 1.800.000 per tahun atau setara dengan 1 galon/hari yang penyetorannya dilakukan melalui nomor rekening yang akan disediakan oleh pengurus Asosiasi.

Ketujuh, hal-hal terkait dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga dan kelengkapan organisasi akan dilakukan dalam tempo yang sesingkatnya dengan dukungan penuh dari Burung Indonesia Program Flores.

Struktur Kepengurusan 

Ketua : Krsensianus Sensi Rodriquez (Depo Amandava, Sekretaris : Rius Haryanto (Permata Qua) Bendahara: Tija (Umi Qua) dengan Divisi Humas; Ande Newa (Depo Wela Sambi), Divisi Program Konservasi Tiburt Hani (Burung Indonesia), Divisi Penggalangan Dana Wilhelmus Gambut (Wilis Qua).  *(Robert Perkasa)
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Imbal Jasa Lingkungan Untuk Konservasi Sumberdaya Air Bentang Alam Mbeliling

Trending Now

Iklan