Iklan

Iklan

Iklan

Iklan

Tombo Adak Anak Rona-Anak Wina Dalam Budaya Manggarai

Rabu, 03 Februari 2021 | Februari 03, 2021 WIB Last Updated 2021-02-03T04:41:45Z
                  
                         
                            Oleh : Aldi Jemadut *)

BUDAYA Manggarai memiliki banyak istilah praktis dan pragmatis yang dapat mempererat tali kekeluargaan dan persaudaraan dalam membangun kehidupan yang lebih baik. Budaya Manggarai tidak dapat diubah atau dirombak sesuai dengan kemajuan zaman yang begitu cepat. Lahirnya sebuah budaya tentu memiliki sejarah yang akurat sehingga semua kekayaan budaya Manggarai bertujuan untuk membangun peradaban masyarakat, khususnya daerah atau budaya Manggarai tersebut. Dalam budaya Manggarai ada sebuah istilah woe nelu. Woe nelu itu melahirkan struktur baru yang disebut anak rona dan anak wina.

Dalam konteks sosial budaya Manggarai, anak rona itu berasal dari keturunan pria atau yang disebut orang dalam (ata one). Sedangkan anak Wina berasal dari keturunan anak perempuan atau yang disebut orang luar (Ata Pe'ang). Anak wina-anak rona muncul karena ada relasi kawin-mawin. Pihak pria disebut anak wina dan pihak perempuan disebut anak rona.                        

Lahirnya istilah anak rona tentu tidak terlepas dari sejarah peradaban Manggarai pada masa lampau. Anak rona merupakan bukti dari upaya untuk mempertahankan keturunan alias wa’u dalam bahasa Manggarai. Adanya hal ini tentu berdasarkan sejarah masa lampau yang telah diwariskan oleh nenek moyang. Istilah ini tidak asal dibuat begitu saja, tentu memiliki unsur keutamaan yang sangat spesifik dan penting bagi nenek moyang pada zaman itu.

Anak Rona (Keluarga besar pihak Gadis)

Keluarga anak rona mengawinkan anak gadisnya dengan pemuda dari keluarga anak wina dalam konteks hubungan percintaan yang  direstui/disetujui (legitimasi adat) oleh pihak anak rona tersebut. Pihak anak rona berhak untuk menentukan atau memilih keluarga laki-laki untuk menjadi anak wina, itu tanpa paksaan dari pihak lain. Namun itu berdasarkan kesepakatan dari pihak anak rona. Jadi di sini anak rona itu dikatakan sebagai dewa keturunan untuk berkembangnya keluarga baik keluarga dalam (one) atau luar (pea’ng).

Walaupun kedudukan anak rona sangat dihormati, sebaliknya anak rona juga sangat menghargai anak wina. Anak rona meminta sejumlah tuntutan yang merupakan kewajiban (paca/belis/mahar) bagi anak wina. Tetapi kewajiban anak rona adalah memberikan anak gadisnya untuk tinggal beserta anak wina atau pihak suami (rona)

Anak Wina (Keluarga besar pihak Laki)

Anak wina yang mempersunting gadis secara sah oleh keluarga besar anak rona untuk tinggal bersama anak wina atau pihak laki laki sampai maut memisahkan. Anak wina pun berhak memilih gadis yang disukainya tanpa ada unsur paksaan dari pihak lain atau dari pihak anak rona itu sendiri. Karena ini merupakan sebuah hak dari anak wina (pihak laki-laki) untuk memilih siapa saja gadis yang disukainya.

Anak wina juga berkewajiban  terhadap keluarga anak rona yang diwujudkan secara nyata melalui sida. Wale sida adalah permintaan bantuan untuk laki atau pihak anak wina dalam membantu urusan pernikahan dari saudara istrinya maupun dalam urusan kematian. Hal ini, pihak anak wina tidak menolak apa yang telah (sida) oleh pihak keluarga anak rona.

Adat Manggarai memiliki sebuah sejarah yang berbeda dengan sejarah budaya lain. Budaya Manggarai juga sangat unik. Uniknya budaya Manggarai itu karena gaya tradisi atau kebiasaan di dalamnya tidak sama dengan budaya Bajawa, Ende Lio, Maumere ataupun budaya lainnya.

Generasi penerus atau generasi milenal wajib menjaga dan mengetahui betapa pentingnya budaya Manggarai untuk diwatiskan dan dilestarikan. Budaya juga perlu dijaga agar tetap kokoh dan kuat serta segala istilahnya tidak hilang/ pudar. Untuk itu kita sebagai generasi milenal berusaha menjaga kelestarian budaya Manggarai yang unik dan bersejarah ini. Sebab jika tidak merawat budaya Manggarai, ada semacam hukuman/kutukan dari nenek moyang. Maka oleh sebab itu generasi milenial harus berusaha untuk mempertahankan dan menjaga serta merawat budaya Manggarai tersebut agar tidak luntur. Generasi Milenia adalah generasi penerus dalam menjaga dan merawat budaya terutama dalam merawat budaya Manggarai yang unik. 

Generasi penerus penting untuk mengetahui lebih dalam istilah woe nelu dalam relasi keluarga anak rona-anak wina. Kita mesti  menggali sejarah budaya Manggarai terutama makna tombo tudak anak rona-anak wina di Manggarai yang unik.

*) Penulis, Mahasiswa asal Noa Pacar, Kecamatan Pacar, Manggarai Barat (Alumni SMAN 1 Pacar Noa).
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Tombo Adak Anak Rona-Anak Wina Dalam Budaya Manggarai

Trending Now

Iklan