Iklan

Iklan

Iklan

Iklan

Hidup Ini Adalah Kesempatan

Rabu, 03 Februari 2021 | Februari 03, 2021 WIB Last Updated 2021-02-03T04:24:15Z

                      Oleh: Fransiskus Ndejeng *)

JUDUL di atas terinspirasi dari syair lagu Pendeta Wilhelmus Latumahina beberapa waktu lalu. Juga seniman kenamaan kita lainnya; seperti Ian Antonio dan Taufik Ismail, Dunia ini  Panggung Sandiwara.

Kita hidup untuk Tuhan dan untuk sesama. Dalam hidup selalu ada goncangan jiwa. Ada bencana, ada peperangan, ada pertikaian, ada persoalan hidup, ada sakit dan ada Pandemi corona. Kita sesungguhnya berjuang untuk hidup. Berjuang untuk melawan dari semua persoalan hidup setiap hari. Melawan dari goncangan Pandemi Corona yang belum ada tanda-tanda berakhir dari kehidupan kita.

Namun, di tengah situasi hidup yang terjepit dan penuh goncangan, tentu kita masih  ada harapan dan optimisme. Diantara pesimisme dan optimisme, kita selalu bersyukur dan mendoakan untuk sesama agar luput dari pencobaan dan percobaan hidup. Yang masih sakit dan dirawat untuk cepat sembuh. Yang telah meninggal dunia, tentu kita berdoa agar mendapat tempat yang layak di sorga abadi sesuai amal baktinya. Bagi yang sehat dan sembuh, tentu mengucapkan rasa syukur dan berterima kasih pada Tuhan.

Beberapa waktu lalu saya pernah bersharing dengan seorang ibu kaya raya secara materi. Semua anaknya memiliki pekerjaan yang mapan dan tidak tinggal bersama orangtua mereka di kota. Anak-anaknya memiliki perusahaan sendiri dan bekerja di luar negeri. Ibunya menjanda. Memiliki kelimpahan harta dan uang. Namun, ibu ini mengalami kekosongan isi batin karena tersiksa oleh kesendirian di Rumah. Hanya ditemani oleh tiga orang asisten rumah tangga.

Untuk melengkapi pandangan penulis di atas, Saya menyetir hasil kajian pendapat yang barangkali cocok untuk kita renungkan dalam situasi dan kondisi yang sedang kita hadapi saat ini.

Setelah penulis mencermati isi hati pengarang lagu tersebut, sungguh mendalam untuk direnungkan sesuai situasi saat ini, yang sedang bergejolak dengan memerangi wabah virus corona secara global. Alam semesta diciptakan oleh Yang Maha Kuasa dan dipergunakan untuk kepentingan manusia hasil ciptaan yang sempurna sesuai pandangan Alkitab. Manusia dan entitasnya menguasai alam semesta bagaikan panggung sandiwara yang tidak pernah berhenti sesuai dengan era dan zaman yang kian berubah.

Sejalan dengan syair lagu, Ahmad Albar, Dunia Ini Panggung Sandiwara, menurut pandangan penulis, bahwa manusia memiliki kodrat yang rapuh dan tidak sempurna. Sebentar mengalami kebahagiaan dan sering berganti  dengan mengalami kesulitan hidup. Ibarat air laut mengalami pasang dan surut. Sebentar kita pasti menderita karena sakit, mengalami persoalan hidup yang kompleks. Mungkin secara ekonomi dan finansial bahagia tetapi secara batiniah tidak bahagia.

"Panggung Sandiwara" adalah judul sebuah lagu ciptaan seorang musisi terkenal yang cukup melegenda di Indonesia, yaitu Ian Antono bersama Taufik Ismail yang menuliskan liriknya. Lagu tersebut sangat populer dan sudah seperti menjadi milik rakyat (public domain). Namun sayangnya, sepertinya banyak yang tidak paham, betapa sangat dalam arti yang dikandung lirik lagu tersebut.

Lagu tersebut betul-betul menggambarkan sebuah realita dalam kehidupan di dunia ini. Sehingga bisa juga dikatakan bahwa lirik lagu tersebut adalah sebagai penyebab Sang Maha Pencipta, membuat skenario untuk menciptakan alam semesta beserta seisinya. Berikut ini lirik lagunya: 

Dunia ini panggung sandiwara 
Ceritanya mudah berubah
Kisah Mahabrata atau tragedi dari Yunani 
Setiap kita dapat satu peranan yang harus kita mainkan
Ada peran wajar dan ada peran berpura-pura         

Mengapa kita bersandiwara Mengapa kita bersandiwara         

Peran yang kocak bikin kita terbahak-bahak
Peran  bercinta bikin orang mabuk kepayang 
Dunia ini penuh peranan,
Dunia ini bagaikan jembatan kehidupan..
Mengapa kita bersandiwara..
Mengapa kita bersandiwara?          

Peran yang kocak bikin kita terbahak-bahak peran bercinta bikin kita mabuk kepayang Dunia ini penuh peranan, dunia ini......          

Lirik lagu tersebut sangat sederhana sehingga mudah dicerna. Namun mengandung arti yang sangat dalam.  Saya sangat meyakini bahwa waktu Ian Atono dan Taufik Ismail menciptakan lagu ini, mereka telah dipakai semesta sebagai perpanjangan tangan-Nya, untuk menyampaikan pesan semesta kepada seluruh manusia sebagai penduduk dunia ini.

Mari kita kupas saja lirik lagu itu berdasarkan sudut pandang spiritualitas:         

Dunia ini panggung sandiwara

Bagaimana tidak? Bukankah sebelum alam semesta ini ada (diciptakan), yang ada hanyalah hitam gelap dan kosong belaka? Di dalam hitam, gelap, dan kosong tersebut ada Sang Keberadaan dalam Ketiadaan. Karena semata-mata Sang Keberadaan ingin dikenal sesuai dengan keterangan dari sebuah Hadits Qudsi, yang berbunyi : "Aku ingin dikenal maka aku ciptakan ciptaan-ciptaan untuk mengenaliku".      

Jadi, dengan demikian semua yang ada di alam semesta beserta isinya ini, semuanya adalah ciptaan-Nya. Semua makhluk termasuk manusia dan entitas lainnya yang hidup di alam semesta ini semuanya adalah DIA.  Karena seperti yang sudah dijelaskan di awal, bahwa sebelum alam semesta ini ada, cuma ada DIA=Sang Keberadaan berada dalam Ketiadaan. Maka setelah terciptanya alam semesta ini, semua yang ada di alam semesta inI juga adalah DIA.         

Demikianlah awal penyebab kenapa alam semesta ini diciptakan? Oleh karena semata-mata Sang Keberadaan=Tuhan/Allah sebagai Kecerdasan Semesta Tanpa Batas, ingin dikenal. Jadi sejatinya yang disebut "Panggung" itu adalah alam semesta itu sendiri. Adapun para pemain sandiwaranya adalah seluruh isi yang ada di alam semesta tersebut.      

Ceritanya Mudah Berubah

Menurut para ahli sejarah, konon bumi ini sudah berusia milyaran tahun. Sejak alam semesta ini diciptakan, entah makhluk apa yang pertama menghuni alam semesta ini dan sudah melalui berapa kali evolusi? Pasalnya belum ada satu literatur atau data apa pun yang bisa menerangkannya secara akurat.         

Menurut pemahaman saya, Tuhan/Allah=Sang Keberadaan sebagai Kecerdasan Semesta Tanpa Batas, dalam proses penciptaannya itu memerlukan waktu yang sangat panjang. Tidak ada yang instan atau serta-merta. Dari satu peradaban beralih ke peradaban selanjutnya, awalnya membutuhkan waktu yang sangat panjang. Seiring waktu yang berjalan dan kemajuan peradaban manusia, maka semakin lama semakin cepat perubahannya. Seluruh alam semesta beserta seisinya berproses dalam ruang dan waktunya masing-masing. Tidak ada satu makhluk serta entitas lain yang diam total. Semuanya berkembang menuju perbaikan dan kemajuan yang disesuaikan dengan zamannya.          

Itulah hakekat dari lirik lagu "Ceritanya Mudah Berubah". Dari sejak zaman Purbakala hingga zaman sekarang ini, entah sudah mengalami mungkin ribuan bahkan jutaan kali perubahan "Ceritanya". Di antara "Cerita-cerita" tersebut, tentunya termasuk juga cerita "Mahabrata dan Tragedi Yunani". 

Setiap kita dapat satu peranan yang harus kita mainkan. Ada peran wajar dan ada peran berpura-pura.

Setiap manusia yang dihadirkan di dunia pada zamannya, masing-masing diberi peranan. Ada peran wajar, ada juga peran berpura-pura. Itulah yang lazim disebut "Dualitas". Semua kehidupan yang ada di semesta ini sifatnya adalah "Dualitas", karena bagi Tuhan/Allah sifat "Dualitas" tersebut adalah sebuah kesempurnaan. Karenanya, di semesta ini tidak ada satu pun makhluk termasuk manusia dan entitas lain yang berhak menilai sifat "Dualitas" tersebut. Sebab semua makhluk termasuk manusia dan entitas lainnya pasti memiliki keterbatasan. Semua ada dalam batas Ruang dan Waktunya masing-masing, sementara kehidupan saat ini tidak terlepas dengan kehidupan-kehidupan sebelumnya. Semuanya merupakan sebuah rangkaian "Cerita" yang tidak terputus dan semua rahasia dari kesinambungan "cerita-cerita" tersebut, hanya milik Tuhan/Allah=Sang Keberadaan sebagai Kecerdasan Semesta Tanpa Batas semata.         

Tak bisa dipungkiri lagi, semua peristiwa dan peranan yang terjadi di semesta ini semuanya adalah peranan DIA semata. Sebab, di semesta ini tidak ada satupun yang bukan DIA. DIA yang awalnya abstrak/gaib, lalu mewujud menjadi alam semesta beserta seisinya.           

Hal tersebut selaras dengan ayat 3 di Al-Quran surat Al-Hadid yang berbunyi: Dia Yang Awal, Dia Yang Akhir, Dia Yang Nyata Dia Yang Tidak Nyata dan Dia Maha Mengetahui. Karena semata-mata ingin dikenal. Jadi semua peranan yang diperankan di dunia ini baik yang wajar maupun yang berpura-pura, semuanya diperankan oleh DIA.           

Adapun semua makhluk termasuk nanusia dan entitas lainnya, hanya dipakai sebagai perpanjangan tangan dari DIA. Karenanya semua media yang digunakan-Nya, tidak ada satupun yang kekal-abadi, karena semuanya dibatasi oleh Ruang dan Waktu. Jadi kalau di dunia ini ada yang baik dan ada juga yang jahat itu semata-mata penilaian manusia yang hidup pada saat itu.

Padahal kehidupan saat itu tidak terlepas dengan kehidupan sebelum-sebelumnya, dan tidak ada satu makhluk termasuk nanusia atau entitas lainnya yang mengetahui rangkaian "Ceritanya", sejarah peradaban di semesta ini, kecuali Sang Maha Pencipta sebagai satu-satunya Sang Keberadaan yang memiliki Kecerdasan Semesta Tanpa Batas. Yang memiliki semua "Cerita" dan rahasia yang ada dari Awal sampai Akhir nanti. Bukankah hal yang demikian itu identik dengan sebuah sandiwara?

*) Penulis tinggal di Labuan Bajo, 30  Januari 2021.
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Hidup Ini Adalah Kesempatan

Trending Now

Iklan