Iklan

Iklan

Iklan

Iklan

Perempuan Pakai 'Sapu': Bukan Sebuah 'Skandal Adat'

Jumat, 09 Oktober 2020 | Oktober 09, 2020 WIB Last Updated 2022-02-22T13:40:17Z

                     Oleh : Sil Joni *)

Salah satu kandidat bupati Mabar, ibu Maria Geong mengadakan visitasi politik di kampung Wae Pau, Desa Repi, Kec. Lembor selatan pada Senin, (5/10/2020). Aktivitas kunjungan itu sempat dinarasikan oleh ibu Mia sendiri dalam akun facebook pribadinya. Untuk menambah 'daya tarik cerita', tak lupa sebuah foto di mana ibu Mia  tampak berwibawa dengan 'destar (sapu) di kepala, duduk bersama tetua adat, dipajang  pada bagian akhir tulisan itu.

Bukan isi narasi yang ditanggapi oleh netizen, tetapi foto diri ibu Mia dengan 'sapu' yang dipakaikan oleh penggembala adat di kampung itu. Foto itu, memicu polemik seru publik yang diartikulasikan dalam pelbagai platform media sosial. Tak sedikit warga-net yang mengecam dan menyayangkan 'perilaku ibu Mia' yang tidak lazim dalam tata adat-istiadat Manggarai. Mereka berdalih bahwa sapu (destar) dalam konteks kultural Manggarai hanya dipakai oleh 'tetua adat laki-laki yang berwibawa'.

Dengan demikian, ketika perempuan (ibu Mia) memakai 'atribut adat' yang hanya digunakan oleh laki-laki, maka beliau dianggap melecehkan adat. Sebuah skandal adat diperlihatkan secara vulgar dalam adegan seperti yang terpotret dalam foto itu. Benarkan ibu Mia 'melecehkan adat' dan melakukan sebuan skandal adat yang mengerikan seperti yang dituduhkan oleh netizen itu?

Pertama nian, kita perlu mengapresiasi 'sikap kritis' netizen yang begitu peduli dengan isu 'kemurnian' menjalankan pelbagai ritual adat dalam hajatan politik seperti Pilkada seperti sekarang ini. Kritikan pedas itu bisa dibaca sebagai sebentuk 'rasa cinta yang tulus' terhadap pelbagai warisan adat dari para leluhur kita. 

Kendati demikian, kita coba 'membedah' secara jernih dan fair fakta ibu Mia (seorang perempuan) memakai sapu dalam sebuah acara adat. Perlu diketahui bahwa tata adat-istiadat yang berlaku dalam komunitas tertentu itu bukan 'warisan suci' dari langit surga, tetapi hasil konstruksi imajinasi sosial untuk melayani dan memenuhi kepentingan tertentu. Budaya itu tidak bersifat statis (mati), tetapi bersifat dinamis dan adaptif, sesuai dengan spirit jaman. 

Penaffsiran terhadap sebuah 'ritual adat' tidak boleh lepas dari spirit jaman dan konteks atau latar dari peristiwa itu. Kita tidak bisa menilai 'tindakan ibu Maria' hanya berdasarkan apa yang tampak dalam foto. Tentu ada kisah (baca: alasan) mengapa sapu (destar) itu dikenakan kepada ibu Maria dalam acara itu. Tafsiran kita akan menjadi bias dan dangkal jika 'konteks' itu diabaikan.

Perlu dicatat bahwa inisiatif pemakaian destar itu tidak dirancang sejak tahap perencanaan dan pelaksanaan acara kunjungan itu oleh ibu Maria. Destar itu dipakaikan kepada ibu Maria dalam konteks 'ritual pengaliran/pemberian rang (kewibawaaan) kepemimpinan dari sisi adat. Jadi, pemakaian itu bermakna simbolis, semacam tanda pencurahan roh kehikmatan dalam memimpin berdasarkan keyakinan adat setempat.

Destar (sapu) biasanya dipakai oleh para tetua adat yang dianggap memiliki 'kharisma' dalam memimpin sebuah komunitas adat. Umumnya, para pemimpin dalam tradisi patriarki adalah laki-laki. Tidak heran jika 'destar (sapu)' sebagai simbol kepemimpinan kharismatis itu hanya dipakai oleh para lelaki. 

Tradisi patriarki sudah dianggap 'ketinggalan kereta' jika dikonfrontir dengan semangat emasipasi dan kesetaraan gender saat ini. Perempuan bukan lagi makluk inferior yang tidak punya kapabilitas untuk menjadi pemimpin dalam pelbagai level. Saya kira, sudah terlalu banyak bukti perihal kiprah perempuan dalam ranah politik kekuasaan saat ini. 

Ibu Maria hadir dalam 'acara' itu sebagai seorang calon pemimpin politik di Kabupaten Mabar. Sangat logis dan wajar jika tetua adat di sana 'mengenakan destar' kepada ibu Maria sebagai wujud kepercayaan mereka terhadap kapasitas beliau untuk menjadi 'tu'a adat politik' di Kabupaten Mabar. 

Atas dasar itu, saya kira, peristiwa ibu Mia memakai 'sapu' tidak bisa dilihat sebagai "skandal Adat' yang mengerikan. Sebaliknya, saya justru melihat bahwa ibu Mia sangat respek terhadap 'keyakinan Adat' dari kampung itu. Beliau merespons harapan anggota komunitas dengan 'bersedia' memakai destar. Itu sebuah tanda bahwa ibu Mia memang siap menjadi 'tu'a adat politik' di wilayah ini. 

Jadi, bukan kasus besar jika calon pemimpin perempuan 'mengenakan atribut simbolis' yang berhubungan dengan tradisi kepemimpinan yang biasanya dikuasai oleh laki-laki. Saya justru menilai bahwa tafsiran kita terlalu bias patriarki. Kita belum keluar dari alam pikir patriarki yang cenderung 'mengabaikan perempuan'.

Saya tidak melihat unsur 'pelecehan Adat' seperti yang dituduhkan itu. Coba pahami konteks atau latar mengapa destar itu dipakai oleh ibu Mia. Hemat saya, yang bermasalah sebenarnya adalah 'tafsiran Kita' yang masih dipengaruhi oleh logika patriarki dan dikotomis antara laki-laki dan perempuan.

Ibu Mia sangat 'menghormati dan menghargai' ritual adat seperti yang dilakukan oleh warga gendang itu. Ia tidak 'menolak', apalagi menghindar ketika "upacara pemberian rang (kewibawaan)" yang disimbolkan dengan sapu itu. Jadi, di mana unsur pelecehannya?

Sebetulnya, hal yang jauh lebih urgen dan krusial untuk didiskusikan adalah 'sisi pembicaraan politik' yang melengking dalam ruang acara itu. Sayang, kita belum terlalu 'tergetar' dengan politik gagasan yang ditawarkan oleh paslon. Energi antensi kita lebih banyak tercurah pada hal-hal asesoris dan atributif yag relatif tak berpengaruh pada 'kedalaman dan ketajaman' paslon dalam menata tubuh politik kabupaten ini.

*) Penulis adalah pemerhati masalah sosial dan politik.
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Perempuan Pakai 'Sapu': Bukan Sebuah 'Skandal Adat'

Trending Now

Iklan