Iklan

Iklan

Iklan

Iklan

Pilkada dan Impian 'Bupati Model' dari Timur

Kamis, 17 September 2020 | September 17, 2020 WIB Last Updated 2020-09-17T11:39:43Z

                  Oleh : Sil Joni *)

Kepala daerah (bupati, wali-kota, dan gubernur) yang mencatatkan sejarah prestasi fenomenal dalam jagat perpolitikan nasional, semuanya berasal dari kawasan Barat Indonesia. Wilayah Indonesia Timur 'nyaris' tak pernah memunculkan kepala daerah yang bisa dijadikan 'role model' dalam pentas kepemimpinan politik pada pelbagai level. 

Kabupaten Manggarai Barat (Mabar) sebagai salah satu destinasi wisata super prioritas, punya potensi untuk melahirkan pemimpin (bupati) bereputasi nasional. Pemerintah pusat (pempus) memberikan perhatian serius dan total terhadap pembangunan infrastruktur kepariwisataan di wilayah ini. Mengapa?

Labuan Bajo adalah salah satu 'aset politik' yang bisa mendongkrak reputasi bangsa bertaraf internasional. Itu berarti Mabar merupakan ruang politik di mana 'kepentingan nasional' dipertaruhkan. Berbicara tentang Mabar, maka skop dan jangkauannya tidak hanya pada skala lokal saja, tetapi juga mesti dikaitkan dengan tata politik nasional bahkan global.

Karena itu, Mabar membutuhkan pemimpin politik (bupati) yang memiliki kapasitas mumpuni untuk menterjemahkan secara kreatif dan produktif visi politik negara di daerah ini. Bupati Mabar harus mampu memberi arti keterlibatan total negara dalam meningkatkan mutu kesejahteraan publik melalui serangkaian strategi, program, dan inovasi politik yang berpihak pada kepentingan publik.

Besarnya perhatian negara terhadap wilayah ini akan berujung kesia-siaan jika bupati selaku kepala daerah 'gagal mengoperasionalkan atau mengaplikasikan' sekema program politik yang benar-benar pro pada dimensi kebaikan publik. Hanya bupati yang 'tahu pasti' apa yang mesti dirancang dan dieksekusi guna memaksimalkan nilai guna dari setiap bentuk pembangunan yang diperlihatkan negara saat ini.

Kita memiliki potensi yang luar biasa untuk menjadi kabupaten yang maju dan makmur. Warga Mabar tidak seharusnya 'berkubang' dalam kemelaratan dan kemiskinan jika pemimpin politik kita tidak menderita 'ketakcakapan politik' dalam membangun daerah ini. Perubahan itu, suka tidak suka, merupakan buah kerja politik profesional dari seorang bupati. Negara sudah memberikan dukungan penuh agar daerah ini segera keluar dari predikat keterbelakangan atau ketertinggalan.

Tetapi, dukungan negara itu kurang berbuah manis jika daerah ini dipimpin oleh bupati yang tidak memiliki visi politik yang progresif dan kemampuan mendesain dan menerapkan program yang bisa menggerakan setiap potensi yang dimiliki oleh warganya.

Saya berpikir Pilkada 2020 mesti menjadi momentum strategis bagi publik Mabar untuk menciptakan sejarah baru dengan terpilihnya bupati yang bisa mencatatkan prestasi di tingkat nasional. Prestasi itu tentu saja diukur dari keberhasilannya dalam 'mengubah kondisi politik daerahnya' dan terutama perubahan tingkat kemakmuran warganya. Bupati terpilih itu akan dikenang sebagai 'bupati hebat' jika semua sektor kehidupan publik mengalami perubahan (kemajuan) yang signifikan. 

Jika idealisme itu terjadi, maka bukan tidak mungkin Mabar bakal menjadi Kabupaten rujukan di republik ini. Para kepala daerah di seluruh Indonesia mungkin berbondong-bondong ke Mabar untuk menimba 'ilmu politik praktis' bagaimana menata sebuah daerah dengan mengoptimalisasi semua sumberdaya yang ada baik yang bersifat natural maupun yang sudah dirancang dengan sangat baik oleh negara.

Kita tahu bahwa sampai pada tahap pendaftaran pasangan calon (paslon), ada empat orang yang bersaing merebut legitimasi publik untuk menjadi bupati di daerah ini. Mereka adalah Maria Geong, Andre Garu, Ferdinandus Pantas, dan Edistasius Endi. Dari empat orang itu, masing-masing kita diharapkan bisa dengan jeli membaca kemampuan mereka dalam kaitannya dengan cita-cita mendapatkan figur pemimpin yang bakal 'menorehkan prestasi politik fenomenal'. 

Oleh sebab itu, sangat penting bagi publik  untuk mengetahui 'track record' dan modal politik mereka demi menunjang sebuah pencapaian politik berskala nasional itu. Indonesia bisa belajar banyak dari Mabar ketika gaung prestasi sang bupati tidak hanya terdengar di tingkat lokal, tetapi juga di level nasional bahkan internasional. Itulah kontribusi Mabar untuk kemajuan bangsa ini. 

Adakah dari empat figur itu yang punya kualifikasi istimewa untuk memenuhi impian tampilnya bupati model dari kawasan Timur Indonesia? Para pembaca budiman-lah yang paling berkompeten untuk menjawab pertanyaan itu.

Mungkin ruang diskursus publik tidak hanya disisi dengan perdebatan soal-soal teknis pencalonan yang menjadi ranah KPU seperti isu perbuatan tercela dan sebagainya. Tetapi, kita coba meneropong dan mengupas hal substansial yang mesti dimiliki para kandidat itu untuk mewujudkan 'idealisme politik', Mabar menjadi kabupaten model di NTT dan bahkan Indonesia.

*) Penulis adalah pemerhati masalah sosial dan politik.
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Pilkada dan Impian 'Bupati Model' dari Timur

Trending Now

Iklan