Iklan

Iklan

Iklan

Iklan

Siswa Mulai Jenuh Belajar dari Rumah

Sabtu, 08 Agustus 2020 | Agustus 08, 2020 WIB Last Updated 2020-08-08T13:33:09Z

     Oleh : Fransiskus Ndejeng *)

Para siswa hampir semua Sekolah mulai jenuh melaksanakan pembelajaran dari Rumah (BDR). Terutama dalam pembelajaran metode online. Sebab, setiap hari para siswa bergaul dan berkutat dengan benda mati, dunia maya.

Hubungan kebatinan dengan sesama siswa di rumah berkurang. Ruang gerak terbatas. Komunikasi dengan guru sangat minim. Tidak ada canda dan tawa sebagaimana sistem pembelajaran tatap muka seperti sedia kala. Hubungan sosial kemanusiaan di antara sesama siswa terbelenggu dan terganggu. Semua itu karena virus corona.

Corona kapan kau berlalu dari padaku? Batin kami tersiksa. Ruang gerak terbatas. Kami jadi ego. Tertekan, terbelenggu bagai dalam penjara.
Jahat! Jahanam! Binatang buta sampula! Pergi kau corona jauh-jauh. Kami mau bebas. Kami mau merdeka belajar dan Kami mau merdeka mengajar para guruku yang selalu setia mendidik dan mengajari kami sikap, pengetahuan dan keterampilan.

Keluhan dan ratapan seorang siswa ketika penulis mendengar dengan penuh batin di salah satu sekolah tua dan memiliki siswa terbanyak 877 orang di kota Labuan Bajo. Yaitu SMP Negeri 1 Komodo, yang terletak di jantung kota wisata super premium Labuan Bajo, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, NTT.

Kebanyakan para siswa dari kalangan petani, nelayan, pelaku wisata, driver kendaraan, buruh bangunan, komite sekolah, penjaga tokoh, pekerja hotel, kontrak daerah; dengan penghasilan pas-pasan. Dapat diperkirakan, kurang lebih 85 prosen menempati posisi ini.

Mengalami tekanan sosial ekonomi yang begitu terasa ketika mengalami proses pembelajaran online dari rumah. Rata-rata tidak memiliki fasilitas belajar hp android. Karena itu mereka terpaksa bergabung di rumah teman yang memiliki fasilitas untuk bisa belajar secara online. Namun, tetap waspada, dengan jaga jarak, pakai masker dan cuci tangan.

Sejalan dengan fakta lapangan yang telah dilansir dari berita Editorial Harian Pagi Pos Kupang, Kamis, 6 Agustus 2020, dibawah topik " Siswa Jenuh Belajar Online". Mengapa? Ada beberapa alasan yang mendasar, antara lain, yaitu, Minim Sarana Prasarana Belajar Online dari Rumah.

Dengan sistem Pembelajaran Jarak Jauh(PJJ) yang berbasis Information Communication Technology(ICT) pada masa pandemi Corona(Covid-19), masih terasa ada kendala sarana prasarana. Hampir semua siswa di NTT tidak memiliki HP android dan pulsa data internet. Akibatnya, para siswa mulai jenuh belajar online dari rumah.

Penulis, mengambil contoh, sebanyak 180 siswa SMP Negeri 1 Maumere belum memiliki HP android. Umumnya berasal dari keluarga tidak mampu.( Berita Pos Kupang, 6 Agustus 2020, halaman 1). Agar tidak ketinggalan materi pelajaran, para siswa itu, terpaksa belajar nunut bersama temannya yang memiliki smartphone. Persoalan ini hampir merata semua sekolah di NTT bernasib seperti itu. Mulai dari pendidikan PAUD, SD/MIS dan sederajat, SMP/MTs dan sederajat, dan SMA/SMK dan sederajat.

Bagaimana kiat-kiat Sekolah dan guru ?

Bagi para siswa yang sudah memiliki fasilitas belajar berupa HP android, bisa mendapatkan pulsa data murah, adalah membangun suatu kerjasama dengan telkomsel setempat dan pusat untuk membuat dokumen surat perjanjian kerja sama dengan sekolah, para guru, wali kelas, dan para siswa, dengan menggunakan anggaran dana BOS sesuai kebutuhan yang telah termuat dalam RAPBS( Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah).

Di samping itu, para guru tetap menyiapkan materi dalam bentuk Modul Belajar dari Rumah dan atau Modul Guru Siswa Belajar Dari Rumah. Sebab, dengan modul yang digunakan mempermudah siswa belajar dan mengerjakan tugas-tugas mandiri. Namun, masih banyak guru di NTT, menyuruh siswa memfoto copy materi dari buku secara keseluruhan dari BAB ke BAB tanpa meringkas dalam bentuk modul sederhana sesuai pedoman kurikulum K-13 hasil penyesuaian.

Sejalan dengan pedoman RPP simpel alah Mendikbud, Anwar Ibrahim Makarim. Dengan tanpa modul belajar, justeru membebankan siswa. Bohong dia mau membaca semuanya. Pasti lebih jenuh lagi. Akan muncul aneka alasan siswa belajar dari rumah. Menambah luka sukma dalam pengalaman belajar dari rumah bagi siswa dan guru. Siswa tidak belajar mendapat nilai rendah, guru jengkel karena sudah diberi foto copy buku tidak belajar dan hasilnya nilai rendah ketika diberi ulangan harian.

Pola yang perlu diperkuat adalah optimalisasi peran guru sebagai fasilitator pembelajaran. Dengan cara membimbing dan mendampingi siswa belajar jarak jauh dari rumah. Mengunjungi siswa kerumah belajar berkumpul siswa dalam kelompok kecil di rumah orang tua yang memiliki fasilitas jangkauan internet yang terhubung dengan sumber belajar sekolah.

Diskusi dengan penuh persahabatan dengan para siswa dan bila perlu dengan orangtua, apa dan bagaimana kesan belajar dari rumah selama pandemi corona. Guru, siswa, dan orangtua diberi ruang terbuka untuk mencari solusi bersama, agar siswa jangan dikorbankan. Namun, tetap mengikuti pedoman protokol kesehatan pemerintah dan WHO.

Sekolah-sekolah yang tidak memiliki jaringan internet, atau tidak bisa terjangkau jaringan internet, guru melaksanakan pembelaharan luring( Luar Jaringan). Menyiapkan waktu khusus sesuai waktu dijadwalkan sekolah dan atau waktu guru dan wali kelas untuk bisa memberikan tugas-tugas modul pembelajaran, untuk dikerjakan di rumah secara mandiri dan manual dan dikembalikan kepada guru untuk menilai. Perankan kerjasama secara kolaboratif antara guru mata pelajaran, guru wali kelas dan orangtua/wali siswa. Tugas orang tua wali untuk memonitor kegiatan siswa di rumah.

Masukan kepada pemerintah terkait dengan sistem pendidikan moderen seperti ini, diharapkan membangun tower online khusus bagi kalangan siswa dan guru untuk bisa mengakses proses pembelajaran dari rumah. Tanpa itu, maka mutu pembelajaran dan mutu pendidikan kita akan melorot jauh dari cita-cita Maju menuju Indonesia Emas tahun 2055. Selain itu, fungsikan Media Radio Pendidikan yang bisa menjangkau keseluruh pelosok negeri, dengan metode siar ulang, agar bisa diakses oleh siswa kita.

Itulah bentuk perhatian yang seyogianya bisa diberikan pertimbangan para Kepala Sekolah, Dinas Pendidikan, para guru dan orangtua, demi mencerdaskan anak bangsa di tengah pandemi virus Corona, dengan sistem Belajar Dari Rumah (BDR), supaya tidak jenuh!

*) Penulis Kepala SMP Negeri 1 Komodo dan praktisi pendidikan, tinggal di Labuan Bajo.
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Siswa Mulai Jenuh Belajar dari Rumah

Trending Now

Iklan