Iklan

Iklan

Iklan

Iklan

Satu Sekolah Menulis Satu Buku

Jumat, 07 Agustus 2020 | Agustus 07, 2020 WIB Last Updated 2020-08-07T08:46:21Z
            
                    Oleh : Sil Joni *)

Gerakan Literasi Sekolah (GLS) selama ini, hanya indah dalam wacana, tetapi nihil dalam aksi. Memang ada beberapa pegiat dan lembaga literasi yang secara intens 'menyuntikkan spirit literasi' di sekolah, tetapi hanya bersifat momental. Kita belum melihat konsistensi kontinuitas dari 'pelatihan dan pendampingan' yang mereka berikan di tingkat Sekolah. Setelah program pelatihan dan pendampingan selesai, gairah berliterasi di sekolah kembali memudar.

Indikator keberhasilan dan goal utama dari aktivitas literasi di sekolah tidak dievaluasi dan dikaji secara berkala. Sebagai contoh, gerakan lierasi itu mesti berujung pada proses penulisan dan penerbitan buku. Kita mesti konsisten dan berjuang untuk mencapai tujuan itu, minimal satu sekolah menulis satu buku.
Bangsa yang maju adalah bangsa yang mencintai buku. Membaca adalah jendela dunia. Sementara aktivitas menulis merupakan langkah awal membuka jendela tersebut. Gerakan literasi sedang menjadi perhatian dunia pendidikan saat ini. Akan jadi kebanggaan tersendiri, jika satu buku kumpulan tulisan hasil karya siswa atau guru dalam satu sekolah bisa diterbitkan.

Beberapa hari yang lalu, salah seorang pegiat literasi mengunjungi SMK Stella Maris. Beliau mempresentasikan sebuah program yang sasaran utamanya adalah menghidupkan tradisi berliterasi di Sekolah. Ada sebuah lembaga yang punya kepedulian terhadap dunia literasi. Lembaga itu telah bermitra dengan negara dalam menghidupkan budaya literasi di sekolah melalui serangkaian program pelatihan dan proses penulisan yang akan diseleksi untuk diterbitkan dalam bentuk buku.

Para siswa dan guru menjadi subyek sasaran dari program itu. Kita ditantang untuk menulis minimal satu jenis tulisan entah puisi, cerpen, artikel jurnalistik, artikel opini, dan laporan penelitian yang nantinya diseleksi untuk diterbitkan dalam bentuk buku. Semua biaya penerbitan buku itu ditanggung oleh lembaga tersebut. Kita hanya diminta untuk berpartisipasi dan berkontribusi dalam menyumbangkan tulisan.

Saya kira, ini sebuah program yang harus kita sambut dan dukung. Lembaga ini sudah menyiapkan ruang untuk mengakomodasi pelbagai 'talenta literasi' yang mungkin terpendam dan tercecer selama ini. Saya membayangkan, jika dalam satu tahun satu sekolah menulis satu buku, maka betapa kayanya daerah ini. Harta rohani yang diabadikan dalam bentuk buku berkelimpahan. Bayangkan dalam 10 tahun, satu sekolah menulis satu 10 buku dengan jumlah sekolah sebanyak 500 misalnya, maka akan ada 5000 buku yang ditulis oleh anak Mabar dalam 10 tahun mendatang. Luar biasa, bukan?

Karena itu, kita coba mendorong dan mengajak para siswa dan guru untuk terlibat aktif dalam program ini. Jumlah guru di SMK Stella Maris saat ini adalah 62 orang. Jika satu guru menulis satu artikel opini dalam satu semester, maka ada 60 artikel yang siap diedit untuk dibukukan. Jumlah sebanyak itu, saya kira sudah lebih dari cukup untuk mencetak sebuah buku. Itu berarti dalam satu tahun SMK Stella Maris bisa menghasilkan dua buku. Itu baru dari guru. Jika program ini melibatkan siswa, tentu hasilnya lebih dari dua buku itu.

Tetapi, saya berpikir, mungkin program itu terlalu muluk. Mungkin kita fokus saja menulis satu buku untuk satu sekolah dalam setahun. Buku itu bisa berupa hasil kolaborasi antara para siswa dan guru, bisa juga hanya dari siswa atau hanya karya dari guru.

Jadi, program menulis ini bernama 'Satu Sekolah Satu Buku. Program literasi ini memfasilitasi siswa atau guru di satu sekolah untuk menerbitkan satu buku kumpulan cerita. Tidak sekadar membantu menerbitkan, tapi program ini juga membimbing para siswa sejak awal menulis hingga buku cetak ada dalam pelukan mereka.

Berdurasi selama delapan minggu, program Satu Sekolah Satu Buku ini diawali dari tahapan seleksi. Setelah sekolah dinyatakan lolos, berikutnya akan dilakukan one day workshop. Pada tahap ini, peserta bakal dibekali dengan materi yang berhubungan dengan menulis buku.

Tak hanya sampai di situ, program ini masih dilanjutkan dengan bimbingan mengenai proses penerbitan buku. Selanjutnya, tahap eksekusi, di mana siswa atau guru mulai menuliskan cerita mereka. Di sini mereka diberi kebebasan menuangkan setiap ide yang ada dalam kepala mereka. Tahap akhir yaitu proses penerbitan.

Program menulis ini diharapkan bisa menjadi 'roket' yang akan melejitkan program literasi sekolah. Satu karya yang bagus akan memancing kreativitas hebat lainnya. Pemerintah mendukung kegiatan literasi, karena kemajuan suatu bangsa selalu disumbang oleh keseriusan menggauli dunia literasi.

Bangsa yang maju adalah bangsa yang mencintai buku. Membaca adalah jendela dunia. Sementara aktivitas menulis merupakan langkah awal membuka jendela tersebut. Gerakan literasi sedang menjadi perhatian dunia pendidikan saat ini. Akan jadi kebanggaan tersendiri, jika satu buku kumpulan tulisan hasil karya siswa atau guru dalam satu sekolah bisa diterbitkan.

Sudah saatnya, khazanah ilmu yang disadap para civitas akademika di sekolah formal, didokumentasikan secara kreatif dalam bentuk buku. Goal akhir dari gerakan literasi adalah dunia publikasi kita semakin hidup. Kita mewariskan harta budaya yang sangat besar artinya bagi generasi yang akan datang. Satu sekolah, menulis satu Buku, menjadi tantangan dan tugas yang mesti kita dinaikan saat ini. Potensi literasi komunitas sekolah, sebenarnya lebih dari cukup untuk menaklukkan tantangan itu. Jadi, satu sekolah, satu Buku itu bisa.

*) Penulis adalah pemerhati masalah sosial dan politik.
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Satu Sekolah Menulis Satu Buku

Trending Now

Iklan