Iklan

Iklan

Iklan

Iklan

Konsep Perencanaan Pembangunan Destinasi Wisata Holistik

Senin, 03 Agustus 2020 | Agustus 03, 2020 WIB Last Updated 2020-08-03T10:58:22Z

               Oleh : Ryno Sardi *)

Potensi pariwisata suatu daerah seperti Manggarai Barat sangat beragam. Mulai dari keindahan alam, adat istiadat atau budaya dan keramahtamahan penduduknya hingga keberadaan sarana dan prasarana pendukungnya. Semua kondisi ini sangat ideal dalam proses perencanaan dan pengembangan suatu destinasi pariwisata dan dapat dijadikan sebagai mesin penghasil devisa bagi suatu daerah.

Keindahan alam suatu daerah yang masih bersifat alami sangat mendukung dalam perkembangan pariwisata. Selain itu, pengembangan sektor wisata juga mesti didukung dengan budaya masyarakat dan sifat keramahtamahan yang melekat dalam kehidupan masyarakat lokal. Semua keunikan itu sangat didambakan oleh wisatawan dan tertarik untuk mengenal dan mempelajarinya lebih dalam.

Dengan keberadaan berbagai potensi menarik itu, maka suatu daerah dituntut merencanakan pembangunan pariwisata yang bersifat utuh (holistik). Hal pertama adalah membangun berbagai macam fasilitas penunjang baik seperti jalan (aksesibility) ke obyek wisata sehingga wisatawan dapat dengan mudah untuk melakukan perjalanan. Di samping itu, kita perlu merencanakan pembangunan hotel, villa, pondok wisata, home stay yang akan digunakan sebagai tempat akomodasi atau penginapan bagi wisatawan selama mengunjungi suatu daerah wisata.

Fasilitas lain yang tidak kalah pentingnya untuk dibangun adalah restoran, pusat pembelajaan tradisional dan modern sehingga akan membawa dampak positif baik bagi suatu destinasi pariwisata maupun masyarakat lokal. Strategi semacam ini sangat baik diterapkan dalam menata sektor pariwisata.

Namun, seiring dengan berjalannya waktu, terkadang suatu destinasi pariwisata, sering terjadi penerapan kebijakan yang bersifat menyimpang. Penyimpangan itu bisa terjadi pada tahap perencanaan dan pelaksanaan. Ketimpangan itu kerab diakibatkan oleh adanya intervensi dan keinginan penguasa yang tidak selalu sejalan dengan kondisi yang sebenarnya.

Sebagai contoh, kawasan yang semestinya dikonservasi atau dilindungi, tetapi demi melayani nafsu ekonomi penguasa, lokasi itu dirubah menjadi kawasan investasi dengan beragam usaha pariwisata. Celakanya, kebijakan itu sering dengan mengabaikan kaidah-kaidah perencanaan, pengembangan dan daya dukung lingkungan suatu destinasi wisata. Kebijakan membangun hotel atau villa mewah di kawasan konservasi; permukiman tradisional digusur menjadi “commerce core” yang dijustifikasi dengan argumentasi bahwa hal ini dapat mendongkrak pemasukan ke kas daerah, merupakan contoh nyata kasus pembangunan yang menyimpang itu.

Padahal, sudah sangat jelas bahwa kebijakan semacam itu menimbulkan berbagai macam dampak negatif yang tentu saja merugikan masyarakat lokal dan masa depan pariwisata itu sendiri. Efek buruk tersebut, tentu sebagai akibat logis dari perencanaan yang tidak sesuai peruntukannya baik dari sisi ekologi, ekonomi, dan budaya.

Hemat saya, sebagai destinasi pariwisata yang mulai berkembang ke arah lebih maju, maka pengembangan kepariwisataan memerlukan perencanaan yang cermat, detail, dan holistik (menyeluruh). Semua sisi harus dikaji dan dipertimbangkan secara matang. Mengapa? Dalam dunia kepariwisataan itu mencakup berbagai bidang kehidupan, baik yang bersentuhan dengan kebutuhan pengunjung (wisatawan) asing atau lokal maupun bagi masyarakat setempat yang menjadi penyedia produk wisata dan sekaligus sebagai tuan rumah (host).

Perencanaan dan pembangunan kepariwisataan di suatu destinasi pariwisata seperti Labuan Bajo, tidak hanya untuk melayani kepentingan wisatawan semata, tetapi juga harus melihat kepentingan masyarakat serta melibatkan masyarakat. Pariwisata mesti dilihat sebagai suatu sistem (system approach) yang saling berhubungan (interrelated system). Untuk itu, dalam perencanaannya mesti memperhatikan aspek saling keterhubungan semua elemen itu.

Jadi, pendekatan yang digunakan harus bersifat menyeluruh (comprehensive approach). Nama lain dari pendekatan semacam itu adalah pendekatan pendekatan holistik. Seluruh aspek yang terkait dalam perencanaan pariwisata yang mencakup institusi, lingkungan, dan implikasi sosial ekonominya, dianalisis dan direncanakan secara menyeluruh. Pendekatan terintegrasi (Integrated approach) ini mirip dengan pendekatan sistem dan pendekatan menyeluruh. Pariwisata dikembangkan dan direncanakan sebagai suatu sistem yang terintegrasi baik ke dalam maupun ke luar.

Dalam perencanaan pembangunan suatu kawasan wisata, analisis terhadap daya dukung elemen lain di sekitarnya tidak bisa diabaikan, bahkan dipandang sebagai bagian integral perencanaan. Pendekatan ini mesti menjadi pendasaran pengambilan kebijakan dan rencana pemerintah, baik di tingkat nasional maupun di tingkat lokal.

Perencanaan pariwisata juga mesti memperhatikan aspek kesinambungan (kontinuitas) yang perlu dievaluasi berdasar pemantauan dan umpan balik dalam kerangka pencapaian tujuan yang optimal. Pengembangan pariwisata juga mesti memiliki ciri: logis, luwes, obyektif dan realistis.

Jika dibuat rangkuman, maka ada beberapa pendekatan dalam perencanaan pembangunan destinasi wisata seperti yang dijabarkan oleh Inskeep (1991) di antaranya:
Pendekatan berkelanjutan dan fleksibel, pendekatan sistem, pendekatan menyeluruh, pendekatan yang terintegrasi, pendekatan pengembangan berkelanjutan dan lingkungan, pendekatan masyarakat, pendekatan pelaksanaan, aplikasi proses perencanaan sistematis, dan pendekatan yang mengedepankan kelestarian wawasan budaya.

Akhirnya, harus diakui bahwa perencanaan pembangunan sebuah destinasi pariwisata harus berbasis konsep pengembangan pariwisata yang rasional. Dengan itu, antara perencanaan dan proses pengembangan akan berjalan beriringan untuk menuju sebuah destinasi pariwisata yang ideal. Konsep pengembangan destinasi pariwisata pun sangat berkaitan dengan kehidupan masyarakat di daerah tersebut karena akan meningkatkan kehidupan perekonomian masyarakat tersebut dan meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD).

*) Penulis adalah amahasiswa Politeknik ElBajo Commodus Labuan Bajo.
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Konsep Perencanaan Pembangunan Destinasi Wisata Holistik

Trending Now

Iklan