Iklan

Iklan

Iklan

Iklan

Daya Khatarsis Bahasa dalam Mendidik Siswa

Selasa, 04 Agustus 2020 | Agustus 04, 2020 WIB Last Updated 2020-08-04T12:40:56Z

              Oleh : Sil Joni *)

Manusia adalah makluk lingual. Filsuf Gadamer dengan sangat genial mengelaborasi renungan filosofis tentang relasi antara manusia dengan bahasa. Refleksi itu bermuara pada proposisi masyurnya bahwa 'manusia berumah dalam bahasa'.

Dalam spektrum filosofis, bahasa tidak hanya berfungsi sebagai instrumen komunikasi, tetapi juga bagian dari corak eksistensial manusia. Bahasa merupakan penanda sekaligus pembeda antara manusia dengan makluk infrahuman. Hanya manusia yang bisa berbahasa, sedangkan hewan hanya sampai pada naluri memproduksi bunyi semata.

Dengan demikian, manusia dilahirkan dan dibentuk dalam ekosistem bahasa. Bahasa dapat mentransformasikan kepribadian seseorang. Dalam proses transformatif itu, bahasa berperan sebagai 'pembersih' (khatarsis) ruang batin manusia dari debu prahara yang secara rutin menghinggapi tubuhnya. Kepribadian yang sehat tentu bertumbuh dan berkembang di atas pondasi batin yang sehat pula.

Teori psikoanalisis Sigmund Freud sepertinya menjustifikasi peranan bahasa di atas. Dalam teknik psikoanalisis, seorang pasien dibimbing untuk menemukan dan membahasakan sendiri persoalannya yang 'terkubur' dalam alam bawah sadar (sub-conscious). Efeknya si pasien akan merasakan kepuasan dan kelegahan sebab beban psikisnya terbongkar tuntas.

Peran terapeutik bahasa begitu menonjol dalam praktik psikoanalisis tersebut. Bahasa menyimpan kekuatan mahadasyat untuk membongkar pelbagai 'kuk' yang menindih kepribadian seseorang. Kita tidak boleh menyimpan atau mengendapkan begitu saja setiap perkara batin yang menimpa kita setiap hari. Manusia butuh kanal ideal untuk memuntahkan 'kotoran' jiwa tersebut.

Terlepas dari kelemahan metodologis konsep khatarsis di atas, saya kira teori tersebut mempunyai relevansi dan kontribusi yang signifikan bagi proses penyadaran terhadap para siswa. Kita tidak cukup mengandalkan metode konvensional dan klasik dalam memformat dimensi personalitas para siswa tersebut.

Para guru relatif 'tak sabar' untuk memberi ruang kepada para siswa dalam mengeluarkan 'tumpukan kerikil' yang menyebabkan mereka kurang optimal dalam mengikuti sebuah aturan, ketentuan, amanat, dan instruksi. Yang lebih tragis adalah para guru cenderung menggunakan argumentasi berbasis otoritas dalam melegitimasi pemberian hukuman fisik kepada siswa. Apa yang ditampilkan selama ini masih berfokus pada upaya penyadaran secara badaniah.

Kita masih bergerak pada level permukaan. Hasil yang dicapai sepertinya kurang maksimal. Mengapa? Kesadaran para siswa itu bersifat temporal. Mereka sadar karena takut mendapat hukuman. Kesadaran itu tidak lahir dari pemahaman yang jernih akan pentingnya sebuah tindakan. Kehadiran guru tak cukup menolong para siswa untuk keluar dari kemelut batin yang mereka hadapi. Justru metode penyadaran lewat pemberian hukuman fisik itu menambah beban psikis yang dihadapi para siswa. Kita justru berkontribusi memberikan 'beban baru' kepada siswa jika menerapkan metode pengasuhan dan pendidikan yang keliru. Kondisi semacam itu tentu bersifat kontraproduktif bagi perkembangan kepribadian yang sehat.

Duc in altum. Bertolaklah ke tempat yang dalam. Ini sebuah imperatif etis bagi kita untuk masuk ke kedalaman persoalan yang dihadapi para siswa. Kita mesti mencari, menyentuh, dan mencabut akar masalah terlebih dahulu sebelum memberikan terapi. Dengan itu, tetapi yang diberikan berdampak konstruktif bagi kemajuan dan peningkatan level kualitas hidup para siswa kita. Para guru mesti tampil sebagai pemberi solusi (part of solution) dan bukan bagian dari persoalan (part of problem) atau menambah runyam konflik yang dialami oleh para siswa kita.

Para guru merupakan kreator dan aktor di balik pertumbuhan dan perkembangan generasi yang sehat dan cerdas di masa depan. Sekolah merupakan ruang investasi manusiawi yang perlu dipupuk secara kreatif dan inovatif. Kreativitas dan inovasi itu, mesti diekspresikan dalam pelbagai metode penyadaran atau pendidikan yang positif. Salah satunya adalah pengoptimalisasian kapasitas bahasa sebagai wahana pembersihan (khatarsis) wilayah batin para siswa.

Aristoteles mendefinisikan manusia sebagai binatang yang rasional. Rasionalitas yang dimaksud tentu saja berkaitan dengan entitas bahasa. Manusia mengungkapkan rasionalitas itu dalam dan melalui bahasa. Untuk itu, rasanya tak ada persoalan yang tak tersentuh bahasa. Termasuk 'lapisan persoalan batin' yang menumpuk dalam tubuh siswa kita. Tugas guru adalah membantu siswa untuk mengolah dan membongkar aneka luka itu sehingga bisa bertumbuh dan berkembang secara normal.

Kita mendidik siswa dengan 'bahasa manusiawi', bukan menggunakan kayu, lidi, tangan, kaki, dan benda-benda fisik lainnya. Bahasa mempunyai potensi untuk mengubah dan membentuk kepribadian yang bermutu jika dikelola secara arif dan kreatif. Kita akan merasakan semacam 'mukjizat' ketika secara intensif memaksimalkan bahasa dalam mendidik siswa. Semuanya tergantung bahasa.

*) Penulis adalah pemerhati masalah sosial dan politik.
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Daya Khatarsis Bahasa dalam Mendidik Siswa

Trending Now

Iklan