Iklan

Iklan

Iklan

Iklan

Nampar dan Saya: Kenangan Pancawindu Usia

Rabu, 24 Juni 2020 | Juni 24, 2020 WIB Last Updated 2020-06-24T04:27:33Z

                  Oleh : Sil Joni *)

Saya dilahirkan pada tanggal 24 Juni 1980 di sebuah kampung yang sangat udik kala itu dari sebuah keluarga petani yang sangat bersahaja. Itu berarti secara obyektif-matematis, durasi perjalanan hidup saya di dunia ini, sudah berlangsung 40 tahun. Dalam sistem kalenderium orang Jawa, dikenal istilah windu di mana 1 windu durasinya 8 tahun. Karena itu, usia 40 tahun sama artinya dengan 5 windu sehingga kita kenal istilah pesta atau perayaan ''Pancawindu".

Atas dasar itu, sebenarnya hari ini, Rabu (24/6/2020) secara khusus saya mengenang dan mensyukuri usia hidup yang sudah menembus angka Pancawindu itu. Agar terdengar lebih 'modern', anggap saja saya sedang merayakan 'pesta Pancawindu usia' saat ini.

Pada momen kenangan dan syukur semacam itu, tentu ada banyak yang hendak diekspresi, direfleksi, dan diproyeksikan secara serius. Sembari mengucapkan madah syukur kepada Sang Waktu dan ucapan terima kasih kepada kedua orangtua (bapak-mama), kakak, adik, sahabat, kenalan dan para penjasa anonim lainnya, saya ingin mengarahkan tatapan permenungan ini pada kampung halaman, Nampar yang telah turut 'berkontribusi' dalam proses pembentukan kepribadian saya.

Sebagian tulisan ini, pernah diposting di grup facebook 'Keluarga Nampar'. Tetapi, karena isi tulisan itu ada hubungannya dengan maksud refleksi ini, maka saya merasa perlu untuk mengolahnya dalam sebuah tulisan yang agak panjang.

Pertama-tama, terima kasih banyak kepada admin grup 'Keluarga Nampar' yang memperkenankan saya menjadi salah satu anggota grup. Undangan ini tentu tidak salah. Saya adalah salah satu pribadi yang dilahirkan dan dibentuk oleh ibunda Nampar ini. Antara Nampar dan saya tentu saja tak bisa dipisahkan terutama jika berbicara dari sisi perjalanan sejarah hidup pribadi saya.

Sebelum narasi ini dilanjutkan, ijinkan saya mengadaptasi sebuah pertanyaan bernada biblis berikut ini. "Adakah sesuatu yang baik datang dari Nampar, salah satu kampung yang sekian lama tenggelam dalam keudikan dan keterpencilan?

Terus terang, Nampar tempo doeloe identik dengan citra serba keterbelakangan. Nyaris tak ada pejabat di level Kecamatan dan Kabupaten yang mengenal atau sekedar menyebut nama kampung itu. Nampar kalah tenar dengan Terang yang dijuluki salah satu 'gudang beras' di Manggarai kala itu. Kampung ini terlampau terpinggirkan dalam hiruk pikuk pembangunan di dataran Terang. Tak ada sesuatu yang bisa menjadi semacam 'daya tarik' untuk bersafari di kampung ini.

Memang, sekadar memutar roda waktu, Nampar semasa saya kanak-kanak, begitu 'tersembunyi. Ia berada di tengah lembah yang dikelilingi hutan belantara. Akses dari dan menuju kampung begitu 'mengerikan' bagi mereka yang tidak terbiasa berjalan kaki di tengah hutan dan medan berbatu-batu. Suka tidak suka kita harus berjalan kaki selama satu jam dari Terang. Tidak sedikit orang baru yang terpaksa menunda dan atau membatalkan niat melihat kampung ini tersebab oleh kondisi jalan yang sangat menantang tersebut. Mereka hanya sampai di Terang dan 'menyerah kalah' sebelum melewati rintangan itu.

Batu cadas (Nampar) seolah menjadi 'ornamen penghias halaman' kampung. Kami mesti bermain di atas halaman berbatu tersebut. Tidak terlalu heran jika otot dan tulang kaki orang Nampar itu umumnya sangat kokoh, kuat, dan atletis. Sedari kecil kita sudah akrab dengan kerikil dan batu-batu cadas tersebut.

Sentuhan pembangunan yang bersifat modern serasa sebuah 'mimpi di siang bolong', yang sangat jauh dari kenyataan. Proyek air minum bersih belum ada. Jalan raya hanya sebatas cerita. Teknologi pertanian seperti traktor, rontok, mesin sedot, mesin chain saw, dan penggilingan tak kelihatan. Demikian pun mesin listrik, sepeda motor dan Televisi masih merupakan barang mewah yang hanya ada dalam dunia dongeng.

Kehidupan orang Nampar kala itu masih sangat alami. Mencuci dan mandi dengan aneka gaya di sebuah sungai musiman yang terletak di pinggiran kampung itu, merupakan panorama yang jamak terjadi. Untuk kebutuhan air minum dan masak, warga menggali 'perigi sederhana' untuk menyaring air dari sungai itu. Para bocah dengan bebas berenang dan berlompatan di sungai itu. Kami sangat merasakan dan menikmati indahnya suasana alam perdesaan yang begitu tenang, damai, tentram, dan alamiah.

Untuk urusan 'bajak sawah', kerbau menjadi hewan yang sangat berjasa. Membajak sawah tanpa menyebut kerbau rasanya sesuatu yang tidak mungkin terjadi. Selain untuk teknologi bajak, kerbau juga dipakai sebagai 'kendaraan pengangkut' hasil pertanian untuk dijual di Terang. Juga dipakai sebagai pemikul padi untuk digiling di Terang. Namun, untuk kebutuhan darurat biasanya para ibu dan anak gadis 'menumbuk padi' di lesunng sederhana hasil karya seadanya dari para bapak.

Di tengah latar tempat yang begitu bersahaja itulah, saya 'terlempar' ke buana mahaluas ini. Mengingat dan menyebut kampung Nampar, saya selalu merasa kuat. Ada kebanggan dan sukacita yang besar. Nampar telah mensuplai energi alamiah dan kemanusiaan yang sangat berarti dalam pencarian jatidiri saya hingga detik ini.

Selalu ada kerinduan yang membuncah untuk kembali mendapat 'spirit baru' dari kampung ini. Saya selalu mendapat penerimaan dan penghargaan yang tulus di sini. Suasana persaudaraan, kehangatan, keakraban, dan kesederhanaan terus menjelma dalam wujud yang baru pada ekspresi kepribadian saya.

Terus terang, saya bisa tampil seperti sekarang ini dalam usia Pancawindu, tentu tidak terlepas dari 'kebaikan' yang saya sadap dari kampung ini. Oleh sebab itu, saya selalu merasa berutang budi dengan kampung ini. Goresan sederhana ini, tentu tidak cukup untuk melunasi utang budi tersebut. Tetapi, saya berpikir dengan mengingat dan memikirkan secara serius keberadaan kampung kelahiran, setidaknya kita masih memberi harapan bahwa kelak, kita mendonasikan apa yang kita miliki agar kondisinya semakin baik.

Saya beruntung sebab masih diberi kesempatan untuk merasakan dan menikmati derap kemajuan yang mulai terlihat di kampung saya ini. Program pembangunan infrastruktur fisik seperti jalan raya di Pantai Utara (Pantura) dari Pemerintah Pusat sudah bisa dicicipi oleh warga kampung ini. Sudah tidak terhitung anak muda dan bahkan orangtua yang memiliki fasilitas mewah seperti sepeda motor, mesin rontok, traktor, mesin sedot, Televisi, dan sebagainya. Keberadaan perkakas modern itu memberi pesan tegas bahwa kampung ini sudah sangat berubah. Terlalu jauh perbedaannya ketika saya dilahirkan dan melewati masa kanak-kanak di kampung ini.

*) Penulis adalah warga kampung Nampar. Tinggal di Watu Langkas.
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Nampar dan Saya: Kenangan Pancawindu Usia

Trending Now

Iklan