Iklan

Iklan

Iklan

Iklan

Mencari 'Sosok Pencipta Sejarah Politik Lokal' (Signifikansi Kontestasi Pilkada)

Senin, 08 Juni 2020 | Juni 08, 2020 WIB Last Updated 2020-06-08T06:22:56Z

           Oleh : Sil Joni *)

Sebuah analisis deskriptif yang mendalam tentang 'kondisi konkret ruang politik Kabupaten Manggarai Barat (Mabar)', hampir pasti bermuara pada kesimpulan yang menggetirkan: 'paradoks'. Daerah yang dianugerahi sumberdaya alam dan budaya yang melimpah dan menawan ini, ternyata berbanding terbalik dengan 'kondisi konkret' yang dialami warganya. Kekayaan alam dan budaya itu, dalam kenyataannya belum secara optimal membebaskan warganya dari kungkungan realitas politik yang negatif seperti kemiskinan, pengangguran, penyakitan, angka putus sekolah, kemelaratan, dll.

Desentralisasi politik yang memberi kewenangan politik bagi daerah otonom dalam 'menata kapital politiknya', seperti yang diterapkan di Mabar, juga belum membantu secara efektif untuk mengatasi rupa-rupa soal negatif itu. Keberadaan aparatur pemerintah daerah yang dipercayai sebagai 'fasilitator' dalam urusan akselerasi kesejahteraan publik, tampaknya belum memperlihatkan kinerja yang gemilang.

Sudah 17 tahun Mabar menjadi 'Kabupaten Otonom', wajahnya tak mengalami perubahan yang berarti. Datar-datar saja. Benar bahwa Labuan Bajo sebagai ibukota Mabar mengalami 'lompatan kemajuan yang signifikan', tentu tidak bisa dijadikan parameter untuk menilai Mabar secara keseluruhan. Mabar itu bukan hanya Labuan Bajo. Mayoritas wilayah di luar ibukota itu, masih relatif tertinggal atau terbelakang.

Dari bupati ke bupati, Mabar tetap masuk kategori daerah miskin. Proyek desentralisasi (Otonomi daerah) tak memberi efek positif bagi percepatan kemajuan di daerah ini. Kontestasi demokrasi lokal (Pilkada) yang sudah tiga kali digelar, seolah bukan 'instrumen efektif' untuk 'merekruit' elit lokal yang bermental 'pengubah arah sejarah politik' di Mabar. Pilkada, dengan itu, tidak lebih sebagai ajang lima tahunan yang bersifat seremonial dan formal dalam 'memilih penguasa semata'.

Tiga edisi Pilkada Mabar sebelumnya 'harus dijadikan cermin' untuk bisa 'memperbaiki kegagalan politik kita'. Bahwasannya pilihan politik publik konstituen sangat memengaruhi 'jalannya roda sejarah politik' di Kabupaten ini. Kita tidak ingin pelaksanaan pelbagai proyek kemaslahatan publik di sini, berjalan kurang efektif tersebab oleh miskinnya daya inovasi, kreasi, dan imajinasi politik dari para pemimpin kita.

Pasar politik lokal saat ini tampak semarak. Para broker politik begitu agresif memasarkan 'jagoan politik' mereka di ruang publik. Sampai detik ini, kita sudah mendapatkan sejumlah paket calon yang sudah mendapat 'tiket politik' dan yang sedang berusaha mendapatkan kendaraan politik dalam kompetisi politik itu. Bahkan, mungkin ada di antara kita yang sudah memberikan semacam preferensi politik kepada sosok kandidat tertentu. Pemberian dukungan semacam itu, sah-sah saja dalam sistem demokrasi elektoral-representatif seperti sekarang ini.

Tulisan ini, tentu tidak berpretensi 'membatalkan atau minimal menggugat' arah dukungan politik personal semacam itu. Fokus uraian ini adalah menjabarkan semacam 'ideal type' dari figur politik yang layak diorbitkan dalam kontestasi ini. Penulis tidak masuk terlalu jauh soal 'siapa orangnya', tetapi hanya sebuah deskripsi normatif perihal sosok yang bisa menjadi 'pencipta sejarah' itu.

Ada dua model manusia dalam hubungan dengan sejarah menurut perspektif seorang filsuf Amerika, Sydney Hook. Dalam bukunya yang berjudul The Hero in History (1943), beliau menjelaskan pemikirannya sebagai berikut. Pertama, tipe manusia yang sekadar 'mengikuti dan melaksanakan kerangka sejarah. Hook menyebutnya sebagai eventful man (manusia peristiwa). Manusia dengan tipe semacam ini hanya dianugerahi kemampuan yang standar. Mereka tak punya kapasitas untuk mengubah dan mencipta sejarah, selain mengikuti saja sejarah nasib yang sudah digariskan.

Kedua, model manusia yang tergolong 'pembuat atau pencipta sejarah. Hook menyebutnya sebagai event-making man (manusia pembuat peristiwa). Berbeda dengan tipe manusia pertama, manusi pembuat sejarah adalah mereka yang memiliki 'kemampuan lebih' untuk mengubah jalannya sejarah dan bisa mencipta sebuah sejarah baru. Mereka layak disebut sebagai 'pahlawan' sebab kontribusi mereka sangat besar dalam mengubah arah sejarah.

Saya kira, tipologi manusia Sydney Hook di atas sangat relevan ketika kita hendak mendiskusikan figur bupati Mabar yang akan dipilih dalam kontestasi Pilkada mendatang. Pertanyaan pokoknya adalah apakah publik memilih paket calon yang masuk kategori 'manusia peristiwa' (pelaksana sejarah) atau manusia pembuat peristiwa (pencipta sejarah) politik di Mabar? Apakah kriteria manusia 'pembuat sejarah' itu telah terpenuhi dalam diri para kandidat itu?

Saya berpikir, jika kita 'memilih duet calon bertipe manusia peristiwa', maka Pilkada tak menghadirkan manfaat bagi publik. Pemimpin yang tak memiliki kompetensi dan keunggulan politik yang istimewa, tentu saja sangat sulit membawa Kabupaten ini ke tingkat yang lebih baik. Harapan terwujudnya sebuah kemajuan yang drastis akan susah terealisasi jika daerah ini dinahkodai oleh pribadi yang tergolong 'biasa-biasa' saja.

Pilkada, hemat saya mesti menjadi peluang dan ruang 'membidik pribadi yang masuk dalam kategori event making man (pembuat dan pengubah sejarah) untuk mendapat mandat sebagai 'bupati Mabar'. Jabatan bupati itu, tidak boleh ditempati oleh manusia yang sekadar pelaksana atau 'pengekor sejarah. Bupati yang terjebak dan tenggelam dalam urusan administrasi-teknis yang rutin (business as usual).

*) Penulis adalah pemerhati masalah sosial dan politik.
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Mencari 'Sosok Pencipta Sejarah Politik Lokal' (Signifikansi Kontestasi Pilkada)

Trending Now

Iklan