Iklan

Iklan

Iklan

Iklan

Rebut Panggung Politik di Tengah Pandemi Virus Corona

Kamis, 07 Mei 2020 | Mei 07, 2020 WIB Last Updated 2020-05-07T00:56:01Z

            Oleh : Sil Joni *)

Aktivitas karitatif yang dihubungkan dengan politik, tak selalu berkonotasi negatif. Donasi kemanusiaan yang diberikan oleh 'insan politik' di musim pandemi (bencana non-alam), tidak melulu sebagai trik politik yang cenderung negatif dan pragmatis. Boleh jadi, pemberian bantuan semacam itu, bisa ditakar sebagai representasi dan implementasi dari sebuah wajah politik yang berorientasi humanistis dan filantropis. Sebuah ekspresi 'politik kepedulian dan kebaikan' yang ditunjukkan pada saat yang tepat.

Intensitas dan volume bantuan sosial-kemanusiaan terus mengalir pasca terpaparnya dua warga Mabar berdasarkan hasil tes Swab beberapa hari lalu. Pemberian itu, selain berasal dari lembaga negara, juga bersumber dari prakarsa pribadi yang umumnya berlatar politisi yang duduk di kursi legislatif, eksekutif, dan yang berhasrat menduduki kawasan eksekutif.

Para individu politik itu, telah memperlihatkan sebuah model politik empati dan kepedulian terhadap wabah covid. Mereka, dengan caranya sendiri berusaha untuk 'melindungi warga' dari amukan covid sekaligus mengurangi beban derita dari warga yang terkena dampak dari pandemi ini. Sebuah solidaritas politis yang melampaui sekat-sekat etnis, agama, wilayah, dan budaya. Mereka menerjemahkan dan mengembalikan pengertian politik yang paling esensial, sebagai upaya 'menyelamatkan kehidupan bersama'.

Saya kira, terhadap pelbagai ekspresi kepedulian itu, kita patut memberikan apresiasi dan penghargaan setinggi-tingginya. Ada banyak orang kaya (berada), tetapi hanya sedikit yang 'tergerak nurani politisnya' untuk menyumbang dan membantu warga yang sangat menderita saat ini. Para politisi itu, dengan segala energi dan sumberdaya yang mereka punyai, memperlihatkan sikap solider kepada sesama. Mereka seolah 'terpanggil secara etis-politis' untuk bertanggung jawab terhadap derita sesama sekaligus melenyapkan covid-19 di bumi Mabar ini.

Kita harus jujur mengakui bahwa politisi yang berkarakter empati dan solider semacam inilah yang dibutuhkan warga Mabar saat ini. Para kandidat pemimpin politik yang fasih beretorika, tetapi defisit aksi kepedulian, tentu bakal ditendang dari gelanggang politik. Jika anda ingin mengadi dalam ranah politik kekuasaan, maka mau tidak mau anda mesti menampilkan diri sebagai pribadi yang peduli, empati, dan solider dengan publik. Anda tidak bisa mengandalkan 'khotbah etis-politis' dari podium politik yang eksklusif dan elitis.

Rasanya, hampir tidak ada pribadi yang terjun ke panggung politik praktis, tanpa digerakkan oleh intensi, ambisi, dan motivasi politis baik yang bersifat subyektif maupun yang bersifat kolektif-obyektif. Untuk merealisasikan pelbagai 'interes politik' itu, para politisi mesti cakap memaikan strategi dalam 'merebut panggung politik'. Kekuasaan politik itu tidak didapat dengan cara berpangku tangan, tetapi melaui serangkaian aksi yang berpedoman pada pola, metode, strategi, pendekatan, trik, dan manuver politik yang cerdas.

Terminologi 'merebut panggung', hemat saya menyiratkan sebuah kesungguhan dan komitmen untuk memanifestasikan aneka strategi politik demi menggapai idealisme politik yang sudah menggelora dalam setiap tapak perjuangan itu. Politisi yang tidak serius, pasti tidak tergerak untuk berkompetisi secara fair dalam panggung politik itu.

Menyalurkan pelbagai bentuk bantuan atas nama pribadi dari sang politisi di masa pandemi, hemat saya, selain dibaca sebagai pengimlementasian sebuah model politik kepedulian dan solidaritas kemanusiaan, juga dalam rangka merebut panggung politik. Hanya dalam melaui tindakan karitatif semacam itu, publik akan membaca keseriusan seorang politisi untuk menjadi 'pemimpin politik' yang siap memberi dirinya kepada sesama. Pelbagai skema donasi politik di musim pandemi, memberikan pesan politik yang tegas bahwa sang politisi layak dijagokan sebab dirinya begitu peduli dan empati terhadap kebutuhan warga dan peka terhadap bencana sosial yang melanda wilayahnya.

Tidak ada yang jelek (negatif) dengan motivasi semacam itu. Toh, itu hanya sebuah efek atau bonus politis saja. Intensi utamanya tetap pada upaya penyelamatan kehidupan warga. Semua tindakan yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan publik, tidak bisa dipisahkan dari unsur politik. Bagaimanapun juga, politik merangkum segala-galanya, terutama aktivitas yang terjadi di ruang publik.

Komitmen dan keseriusan para politisi itu terlihat dalam model pemberitaan di media yang kerap 'menonjolkan statusnya', entah sebagai Ketua DPRD, anggota DPRD, calon bupati, calon wakil bupati, pengurus Partai politik, wakil bupati, dan sebagainya. Itu berarti individu yang memberi pantuan itu, lebih dari sekadar pribadi, tetapi seorang individu politis yang terbaca dari predikat politis yang disandangnya.

Ketika 'atribut politik plus' itu yang dimainkan, maka publik disuguhi sebuah teks politik yang berujung pada penguasaan panggung politik. Ketika skenario dominasi itu terwujud, di situ idealisme politik terjelma secara sempurna. Semua politisi pasti mendambakan situasi dominasi semacam itu. Setidaknya, dominasi adalah modal dan pintu masuk untuk menduduki area kekuasaan politik.

Jadi, para aktor politik di musim pandemi ini, tinggal memilih, apakah mau terlibat dalam kompetisi memperlihatkan model politik kepekaan melalui skema aksi donasi kemanusiaan atau menjadi penonton? Setiap opsi pasti mempunyai risiko. Siapa menabur angin dia menuai badai. Politisi yang rutin berinvestasi kebaikan di masa corona, berpotensi meraih simpati publik. Jalan untuk menggapa idealisme politiknya pun kian terbuka lebar. Kita tunggu saja, episode politik apalagi yang bakal diperagakan hari-hari ini.

Akhirnya, dengan semakin banyaknya individu politik yang berusaha menerapkan politik kepedulian di musim pandemi ini, kita berharap prahara corona segera berakhir. Semua elemen masyarakat termasuk para elit politik, mesti bersinergi dan bersatu dalam melawan covid-19.

*) Penulis adalah pemerhati masalah sosial dan politik.
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Rebut Panggung Politik di Tengah Pandemi Virus Corona

Trending Now

Iklan