Iklan

Iklan

Iklan

Iklan

"Salam Literasi" : dari Jargon ke Lakon

Rabu, 06 Mei 2020 | Mei 06, 2020 WIB Last Updated 2020-05-06T11:03:39Z

              Oleh : Sil Joni *)

Secara leksikal kata salam berarti damai, pernyataan hormat, dan ucapan. Memberi salam, dengan demikian mengandung pengertian menyalurkan damai, menyatakan penghormatan, dan memberi ucapan yang tentu saja berkonotasi positif.

Sedangkan literasi, secara sempit diartikan sebagai 'kemampuan membaca dan menulis, kemampuan individu dalam mengolah informasi dan pengetahuan untuk kecakapan hidup, dan penggunaan huruf yang merepresentasikan bunyi dan makna'. Dalam arti yang terbatas itu, literasi selalu mengacu pada aktivitas baca-tulis.

Dari definisi sederhana itu, dapat disimpulkan bahwa frase salam literasi berarti pernyataan atau ucapan hormat terhadap kegiatan baca-tulis. Ketika kita mengucapkan atau menulis ungkapan 'salam literasi', sesungguhnya kita memberikan semacam penghargaan dan penghormatan terhadap aktivitas baca-tulis yang digeluti oleh seseorang dan mungkin diri kita sendiri sebagai pengucap salam itu.

Tetapi, apakah tindakan 'menulis atau mengucapkan' ungkapan itu identik dengan 'aktus berliterasi' itu sendiri? Apakah kita hanya sebatas menulis, mengucapkan, dan menyebarkan pernyataan itu dalam mengakarkan aktivitas literatif? Roh atau pesan apa yang semestinya kita perlihatkan dalam ungkapan itu? Apa makna ungkapan itu bagi kita saat ini? Apakah ungkapan itu hanya sebatas jargon atau semboyan sebagai penanda identitas semata?

Jika kita menyimak atau membaca obrolan seputar dunia literasi di berbagai kanal media sosial, kita menyaksikan 'hilir-musiknya' jargon 'Salam Lierasi' pada bagian akhir dari fragmen percakapan itu. Para partisipan diskursus yang umumnya para pencinta kultur literasi selalu menyisipkan jargon itu dalam setiap sesi pembicaraan itu. Mereka seolah meniupkan 'roh literasi' kepada segenap anggota yang bisa dijadikan penanda identitas kelompok.

Sebetulnya, penyebaran salam itu kepada sesama, pada satu sisi bisa dibaca sebagai upaya menjaga dan membangun soliditas di antara sesama. Tujuannya adalah dalam dan melaui aktus pengiriman jargon itu, kita termotivasi untuk semakin bergairah menghidupkan tradisi literasi di tengah komunitas, tempat di mana kita mengabdi. Pelukan 'Salam Literasi', dengan demikian menjadi suplemen spirit dan inspirasi bagi 'para pegiat untuk secara serius dan intensif membumikan habitus literatif di tengah masyarakat.

Namun, literasi, pada sisi yang lain, tidak hanya sebatas jargon dan slogan. Jargon itu baru bertenaga jika dan hanya jika, dijelmakan dalam tindakan konkret. Jargon itu mesti bermemorfosis menjadi sebuah lakon yang aktif dan kreatif.

Sampai pada titik ini, kita mesti mengakui bahwa hanya sedikit orang yang telah 'membatinkan' jargon itu dalam sebuah habitus yang berkesinambungan. Umumnya, kebanyakan kita masih sampai pada level 'menggemakan slogan dan jargon'. Untuk itu, agar jargon tersebut tidak menguap begitu saja, sebaiknya kita terjemahkan jargon itu dalam bentuk lakon.

Seruan untuk menjadi 'pribadi literatif', tentu menjadi tantangan yang mesti kita taklukan. Benar bahwa bukan sebuah 'keharusan' untuk tampil dengan karakter literatif yang menawan. Namun, bagi mereka yang sudah 'jatuh cinta' dengan dunia itu, mesti menyalurkannya dalam bentuk 'pembicaraan berliterasi' yang tidak cukup hanya tampak gagah dalam slogan, tetapi nihil aksi.

*) Penulis adalah pemerhati masalah sosial dan politik.
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • "Salam Literasi" : dari Jargon ke Lakon

Trending Now

Iklan