Iklan

Iklan

Iklan

Iklan

Maraknya Pengaburan Sejarah

ZiarahNews
Jumat, 13 Maret 2020 | Maret 13, 2020 WIB Last Updated 2020-03-13T17:32:04Z
Maraknya Pengaburan Sejarah
(Foto/Ilustrasi)


Maraknya Pengaburan Sejarah

Oleh: Silvester Detianus Gea*

Thomas Matulessy (Pattimura)

Thomas Matulessy atau dikenal dengan nama Kapitan Pattimura lahir di Haria, pulau Saparua, Maluku, 8 Juni 1783. Ia seorang penganut agama Kristen Protestan. Menurut Ahli waris pemegang surat pengangkatannya sebagai pahlawan nasional, Thomas Matulessy tidak menikah sehingga yang melanjutkan keturunan abangnya, Johannis Matulessy. Hingga kini keluarga ahli waris adalah penganut Kristen Protestan. 

Namun, menurut Prof. Ahmad Mansyur Suryanegara mengatakan bahwa nama asli Pattimura adalah Ahmad Lussy (Mat Lussy). Menurutnya, Pattimura beragama Islam.

Marcellina Matulessy dan Albert Matulessy (anak buyut Thomas Matulessy), yang berkarir sebagai seorang polisi pernah membantah klaim Ahmad Mansyur Suryanegara. Marcellina Matulessy dan Albert Matulessy menunjukkan dokumen-dokumen dan silsilah keluarga Thomas Matulessy yang menganut agama Kristen Protestan.

Namun Ahmad Mansyur Suryanegara tidak memberi tanggapan atas data yang diberikan oleh anak buyut Thomas Matulessy, sehingga beberapa kalangan menilai Ahmad Mansyur Suryanegara tidak memiliki sikap seorang ilmuan sejati.

Tidak dapat dipungkiri bahwa belakangan ini banyak orang yang berupaya mengaburkan sejarah, sehingga umat dari agama tertentu terkesan tidak memiliki andil dalam memerdekakan bangsa Indonesia.

W.R. Soepratman

Selain Pattimura yang diklaim sebagai seorang islam, beredar pula klaim bahwa Wage Rudolf Supratman yang diklaim beragama Islam (aliran Ahmadiyah). Padahal Wage Rudolf Supratman (WR Soepratman) adalah seorang penganut agama Katolik yang taat. Masa kecil hingga dewasa Supratman tinggal di Makassar mengikuti keluarga kakaknya, sampai ia dewasa dan bekerja di perusahaan dagang. Pada waktu berusia 21 tahun, W. R. Supratman menciptakan lagu Indonesia Raya, sebagai jawaban atas kegelisahan penulis majalah timbul yang ingin ahli – ahli musik di Indonesia untuk menciptakan sebuah lagu kebangsaan.

Sementara itu, menurut Abdul Basit Amir Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) dalam temu dengar dengan para anggota komisi VIII DPR RI pertanggal 16 Februari 2012 mengeluarkan pernyataan kontroversial bahwa W R Supratman adalah salah satu anggota Ahmadiyah yang ada di Indonesia, hal ini dipergunakannya untuk memperkuat statement dia bahwa Ahmadiyah berkontribusi dalam perjuangan berdirinya Negara Indonesia. Pernyataan itu sangat aneh dan berlawanan dengan sejarah pendirian Ahmadiyah. Ahmadiyah berkembang pertama kali di Sumatera Barat (Minangkabau) pada tahun 1925 dan di Yogyakarta pada tahun 1924. Sama sekali tidak ada keterangan sejarah bahwa W. R. Supratman pernah menginjakkan kakinya di kedua kota tersebut.

Lalu atas dasar apa klaim dalam buku Kenang-Kenangan 10 Tahun Kabupaten Madiun, yang mengatakan “  ……..Tahun 1932, Soepratman mendapat sakit urat sjaraf, disebabkan lelahnja karena bekerja keras. Setelah beristirahat 2 bulan, di Tjimahi, beliau kembali ke Djakarta untuk mengikuti aliran Ahmadijah. Sedjak April beliau bersama kakaknya menetap di Surabaya.”[1] ?. Kutipan di atas seolah-olah dibuat-buat tanpa keterangan yang jelas. Seakan-akan karena sakit urat syaraf karena kerja keras, lalu ia beristirahat dan kemudian pindah ke Jakarta utuk mengikuti aliran Ahmadiyah. Pernyataan ini benar-benar lucu dan tidak masuk akal. Tak ada hujan, tak ada angin tiba-tiba ada pernyataan bahwa W.R. Supratman akhirnya mengikuti aliran Ahmadiyah.

Dr. Ahmad Najib Burhani, Ph. D dalam sebuah semi seminar Jalsah Salanah GAI, 24 Desember 2013 mengatakan, "Bagi saya, W. R. Supratman itu bukan, atau saya belum yakin bahwa dia itu, seorang Ahmadiyah. Kenapa? Salah satu buku yang digunakan sebagai landasan bahwa dia itu Ahmadiyah adalah buku "Peringatan Ulang Tahun Kesepuluh Kota Madiun", dan itu jarang yang punya. Saya termasuk yang punya. Dijelaskan di situ bahwa W. R. Supratman ketika sakit datang ke Ahmadiyah. Tetapi di situ tidak dijelaskan bahwa dia Ahmadiyah. Nah, kalau umpamanya ada bukti lain, misalnya ada pernyataan dari keluarga, atau baiat, dan sebagainya, mungkin saya menjadi yakin bahwa dia jemaat Ahmadiyah. Tetapi kalau buktinya hanya buku itu, maka saya belum yakin."

Maka, semakin jelas bahwa pernyataan W.R. Supratman seorang Ahmadiyah tidak benar. Meskipun demikian, seringkali dijadikan rujukan karena diklaim dan ditulis untuk pertama kali dalam bentuk buku ketika dalam Kenang-Kenangan 10 Tahun Kabupaten Madiun. Sementara itu Gereja Katolik seringkali tidak ingin menonjolkan umatnya yang berjuang dan ikut serta dalam kemerdekaan. Meskipun demikian Gereja Katolik tetap mempunyai data dan keterangan sejak awal bahwa W.R. Supratman adalah seorang Katolik.[2]  

Buku Sejarah Nasional Edisi Pertama yang ditulis oleh M. Sapija dengan jelas menulis bahwa W.R. Soepratman adalah seorang penganut agama Katolik.[3] Demikian pula data dari Keuskupan Agung Jakarta menulis bahwa W.R. Soepratman adalah seorang penganut Katolik.[4] Klaim secara sepihak tersebut tentu sebuah hal yang sangat lucu dan memalukan demi “pengakuan” bahwa Ahmadiyah berperan dalam perjuangan kemerdekaan.[5]

Candi Borobudur

Klaim yang sama juga pernah dilakukan oleh KH. Fahmi Basya juga mengklaim bahwa Candi Borobudur adalah milik umat Islam karena merupakan peninggalan nabi Sulaiman. KH. Fahmi Basya yang berprofesi sebagai dosen Matematika UIN Syarif Hidayattullah Jakarta menerima kritikan dari berbagai pihak karena klaimnya dinilai ahistori.

Referensi:
-M. Sapija, Sedjarah Perdjuangan Pattimura: Pahlawan Indonesia (1960), hlm. iii, 35.
-J.B. Soedarmanta, Jejak-jejak Pahlawan: Perekat Kesatuan Bangsa Indonesia, (Jakarta: Grasindo, 2007), hlm. 199.
-Arya Ajisaka, Mengenal Pahlawan Indonesia, (Jakarta: Kawan Pustaka, 2008), hlm. 9.
-David Matulessy, Pattimura-Pattimura Muda Bangkit Memenuhi Tuntutan Sejarah (1979), hlm. 70
-Ahmad Mansur Suryanegara dalam Api Sejarah Volume I (2009) hlm. 200.
-Wajah dan Sejarah Perjuangan Pahlawan Nasional, Volume 1-2, 1983:53.
Bernadus Barat Daya dan Silvester Detianus Gea. 2017. Mengenal Tokoh Katolik Indonesia: Dari Pejuang Kemerdekaan, Pahlawan Nasional Hingga Pejabat Negara. Labuan Bajo: Yayasan Komodo Indonesia.



[1] Buku Kenang-kenangan 10 Tahun Kabupaten Madiun halaman 168 s/d 171 , Madiun 1956,  penerbit tak diketahui ). 4.
[2] Bernadus Barat Daya dan Silvester Detianus Gea. 2017. Mengenal Tokoh Katolik Indonesia: Dari Pejuang Kemerdekaan, Pahlawan Nasional Hingga Pejabat Negara. Labuan Bajo: Yayasan Komodo Indonesia. hlm.14-20.
[3] M. Sapija, Sedjarah Perdjuangan Pattimura: Pahlawan Indonesia (1960), hlm. iii, 35.
[4] Buku Bulan Keluarga 2016 dengan tema "Sekolah Kehidupanku." Buku Pemandu hal. 31 Pertemuan ke 4. Diterbitkan oleh Keuskupan Agung Jakarta.
[5] https://empuss-miaww.blogspot.com/2012/08/benarkah-wage-rudolf-supratman-seorang.html#.XmsSBaMzbIU


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Maraknya Pengaburan Sejarah

Trending Now

Iklan