Iklan

Iklan

Iklan

Iklan

Bersyukur Disapa 'Orang Besar' (Numpang Sisip Refleksi 'Kisah Perjumpaan M. Geong, Sil Syukur, dan Barat Daya)

Sabtu, 07 Maret 2020 | Maret 07, 2020 WIB Last Updated 2020-03-07T11:10:06Z
Bersyukur Disapa 'Orang Besar' (Numpang Sisip Refleksi 'Kisah Perjumpaan M. Geong, Sil Syukur, dan Barat Daya)
Sil Joni

Oleh: Sil Joni*

Momen perjumpaan selalu 'menyimpan cerita' teistimewah perjumpaan yang tak direncanakan sebelumnya. Kita seolah 'terpana' oleh kehangatan rasa cinta ketika bersua muka pada satu titik dan momen yang tidak diagendakan.  Bahasa cinta itu terekspresi dalam aneka gaya gestur (bahasa tubuh) dan bahasa verbal yang bersifat natural dan spontan.

Suasana 'keakraban' itulah yang terekam ketika Wakil Bupati Mabar (Maria Geong) dan anggota DPRD Mabar 4 periode, Sil Syukur berjumpa dengan seorang 'petani bersahaja', Bernadus Barat Daya di tengah halaman (jalan utama) kampung Rangat pada Jumat, (6/3/2020). 'Si petani sederhana' tampil agak dekil sebab beliau baru saja berpeluh mencari 'ijuk' di tengah lembah dan rimba sekitar kampung itu.

Tak pernah terbayang dalam benaknya, 'dua pejabat top' di Kabupaten itu 'rela keluar' dari mobil mewah untuk sekadar bertegur sapa dan berbagi senyuman walau hanya sesaat dengan 'orang kampung' seperti dirinya. Karena itu, kisah perjumpaan di halaman itu begitu spesial dan berkesan baginya.

Kisah itu seolah menghadirkan kembali  'adegan Maria mengunjungi Elisabet' dalam warta biblis yang sangat dramatis itu. 'Bayi kerinduan' untuk berjumpa dengan orang besar melonjak kegirangan. "Siapakah aku ini, sehingga 'sepasang kekasih politik' mau berbagi kebahagiaan di tengah latar kesederhanaan yang tak terbantahkan?

Media daring floresnews.net edisi Juma't, (6/3/2020) melansir pekikan 'rasa bahagia' sang petani itu. Diberitakan bahwa dirinya sangat mensyukuri peristiwa perjumpaan tak terduga itu. Barat Daya bersyukur sebab dua orang besar telah 'menyapa' dirinya, seorang petani kecil yang sangat sederhana.

Bagi saya pernyataan 'bersyukur sebab disapa orang besar' yang keluar dari mulut Barat Daya, cukup menarik untuk direfleksikan. Pertama, pernyataan itu lahir dari kenyataan bahwa ketika seseorang menduduki posisi politik bergengsi, ada kecenderungan untuk 'menjaga dan membagun tembok pembatas' dengan rakyat jelata. Jangankan 'bertegur sapa', menatap secara simpatik dari kaca mobil mewah pun, terlampau sulit diperlihatkan. Wajah orang besar itu 'kerap terangkat' ke hal-hal besar. Bahkan ada yang 'sengaja memakai kaca mata gelap' agar mata mereka tidak terganggu oleh panorama mengerikan yang terpancar dari wajah-wajah orang miskin.

Kedua, sesungguhnya publik 'tidak mengharapkan 'pemberian barang mewah' dari para pejabat. Mereka hanya mendambakan 'sapaan empatik nan tulus dari orang besar itu. Dalam dan melaui sapaan, senyuman, dan candaan itu, rakyat jelata merasa 'terangkat martabatnya'. Pengalaman disapa oleh orang besar begitu berkesan dan bertahan sepanjang hayat, ketimbang politik donasi yang bersifat hipokrit dan manipulatif.

Ketiga, kisah perjumpaan itu membawa pesan politik bagi penguasa bahwa 'jalan raya' bukan sebuah area modernisasi tanpa jiwa. Jalan raya merupakan medan ideal untuk 'bersosialisasi' sebagai makluk politik. Karenanya, sensitivitas politik tidak boleh 'terkurung' dalam kaca mobil, tetapi hendaknya diekspresikan melalui sapaan, tatapan, dan senyuman yang manusiawi.

Keempat, seorang pejabat mesti 'membuka hati' bagi kebaikan publik. Ia mesti keluar dari 'zona kemapanannya' untuk mencium aroma tengik dan dekil dari warganya. Para pejabat tidak boleh 'menutup hidung politik' dalam mengendus borok dan luka yang menimpa warganya. Pemimpin itu harus merakyat. Ia adalah 'gembala' yang rela menderita demi keselamatan domba-domba politiknya.

Barat Daya dalam kisah perjumpaan itu saya kira tidak sedang 'beracting'. Beliau sebetulnya memberikan pendidikan politik sekaligus 'teguran' bagi pejabat publik melalui aksi yang konkret. Tentu saja Barat Daya bukan baru pertama kali berjumpa dengan dua 'figur publik' itu. Kisah perjumpaan di tengah kampung itu, sengaja ditonjolkan sebab mengandung 'pesan politik' yang sarat makna.

Atas dasar itu, kita perlu menaruh respek dan mengapresiasi peragaan momen perjumpaan yang bermutu kepada publik dari tiga sosok yang sudah familiar dalam jagat politik lokal. Kita tahu bahwa saat ini Maria Geong besar kemungkinan akan berduet dengan Sil Syukur untuk bertarung meraih posisi bupati dan wakil bupati dalam kontestasi Pilkada Mabar 2020. Sementara itu, Barat Daya agaknya tetap 'nyaman' tampil sebagai 'petani kecil' di sebuah kampung terpencil di Mabar.

Kendati dirinya dipersonifikasi sebagai 'petani', sebetulnya 'darah politik' dalam tubuhnya tetap mengalir deras. Dari kampung terpencil itulah, Barat Daya coba berkontemplasi merangsang strategi untuk mendapat ruang dan peluang 'duduk' di kursi kekuasaan. Beliau tetap 'bergairah' terlibat dalam pelbagai dinamika demi memaknai 'momen kontestasi politik' ini. Apakah 'dewi fortuna politik' sanggup membawa si petani kecil ke tampuk kekuasaan politik di tanah wisata ini? Hanya waktu yang tahu.

Skenario apapun yang terjadi dalam kontestasi kali ini, satu yang pasti Barat Daya tetap tampil sebagai sosok yang konsisten dengan idealismenya. Pergerakan politiknya ditopang oleh 'seperangkat' nilai etis-religius yang sangat substansial. Hampir semua retorika dan 'tata bahasa tubuhnya memancarkan sinar politik kepekaan terhadap 'nasib publik', termasuk adegan perjumpaan sesaat dengan 'dua sejoli politik, Maria Geong dan Sil Syukur persis di tengah kampung halamannya.

*Penulis adalah pemerhati masalah sosial dan politik.
Editor: Nasarius Fidin
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Bersyukur Disapa 'Orang Besar' (Numpang Sisip Refleksi 'Kisah Perjumpaan M. Geong, Sil Syukur, dan Barat Daya)

Trending Now

Iklan